Sedang Menimpa Indonesia, Resesi Adalah....

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 06 Nov 2020 20:15 WIB
Resesi Adalah
Foto: Resesi Adalah (Tim Infografis: Zaki Alfarabi/detikcom)
Jakarta -

Indonesia resmi resesi. Hal itu dibuktikan dari ekonomi kuartal III-2020 minus 3,49%, setelah sebelumnya di kuartal II-2020 juga minus 5,32%.

Sebagai masyarakat Indonesia kita harus tahu apa yang sedang menimpa negara ini. Jadi apa sih resesi itu?

Resesi adalah ekonomi yang 0% atau bahkan minus selama dua kuartal berturut-turut. Dibuktikan dengan pengangguran naik, hingga harga properti yang turun akibat tidak adanya daya beli.

The National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai penurunan yang signifikan dari kegiatan ekonomi secara merata. Kondisi resesi berlangsung lebih dari beberapa bulan yang biasanya tercermin dalam produk domestik bruto (PDB), indikator pendapatan riil, lapangan kerja, tingkat produksi industri, hingga penjualan di tingkat eceran atau konsumsi masyarakat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga pernah menjelaskan resesi adalah kondisi ketika PDB atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal berturut-turut.

"Technically kalau dua kuartal berturut-turut negatif memang resesi. Kan itu definisi resesi memang bahwa pertumbuhan ekonomi dua kuartal berturut-turut negatif. Itu berarti ekonomi mengalami resesi," kata dia dalam konferensi pers virtual APBN KiTa pada 16 Juni 2020 lalu.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad juga menjelaskan resesi adalah turunnya kondisi perekonomian nasional. Hal itu tampak dari pertumbuhan ekonomi yang minus dua kuartal berturut-turut. Dengan kondisi Indonesia terkini maka tampak penurunan ekonomi yang signifikan imbas pandemi Corona.

"Kalau resesi intinya penurunan kondisi perekonomian dalam dua kuartal berturut-turut dibanding tahun lalu. Kalau kita lihat sekarang aja dibanding tahun lalu sebenarnya sudah minus 10,4% dalam kondisi normal. Kalau dulu 5,02% kemarin minus 5,3% itu kan selisihnya 10%. Dan kalaupun besok kuartal III minus 1 atau nol koma berarti kan sekitar 6% itu dalam banget," katanya kepada detikcom 31 Agustus 2020.

(hns/hns)