Eks Mentan Bungaran Saragih Apresiasi Kinerja Pertanian Tumbuh 2,15%

Faidah Umu Sofuroh - detikFinance
Minggu, 08 Nov 2020 17:16 WIB
Petani melakukan panen di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Banten, Selasa (28/7/2020). Sebanyak 400 hektar sawah panen dengan baik.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Pertanian periode 2000-2004 pada Kabinet Gotong Royong Profesor Bungaran Saragih mengapresiasi kinerja sektor pertanian yang mampu tumbuh positif di kuartal III 2020 hingga mencapai 2,15% (YonY). Menurut Bungaran, capaian tersebut bukan sesuatu yang mudah karena diraih pada saat situasi ekonomi makro tumbuh secara negatif.

"Menurut saya 2,15% itu angka yang sangat menggembirakan karena sekarang kita berada pada situasi pertumbuhan makro ekonomi yang negatif. Hasil tersebut merupakan performance yang luar biasa. Dan buat saya, capaian ini menunjukan bahwa kita tidak perlu khawatir dengan ketahanan pangan kita," ujar Bungaran dalam keterangan tertulis, Minggu (8/11/2020).

Bungaran mengatakan rangkaian kemajuan sektor pertanian tersebut bisa dilihat berdasarkan data BPS saat merilis pertumbuhan pertanian pada kuartal 1. Kemudian terjadi peningkatan hebat di kuartal 2, lalu bergerak positif di kuartal 3. Lebih dari itu, sektor pertanian juga mencatatkan satu-satunya sektor yang tumbuh positif untuk Produk Domestik Bruto (PDB) dihitung secara tahunan (y on y).

Seperti diketahui, berdasarkan data BPS, sektor pertanian berkontribusi besar terhadap pendapatan domestik bruto (PDB) dimana kuartal II 2020 tumbuh hingga mencapai 2,19%, dan kuartal III masih tumbuh 2,15%. Adapun kontribusi PDB di kuartal III 2020 mencapai 14,58%.

"Kalau dalam pembangunan pertanian itu, kita harus melihat dari angka PDB. Jadi kalau PDB pertanian meningkat 1 persen per tahun, itu adalah kinerja yang cukup baik. Kemudian kalau naiknya dari 1 sampai 2 persen itu sangat baik sekali. Apalagi saya tau menumbuhkan PDB itu bukan pekerjaan mudah," katanya.

Selanjutnya, yang menjadi perhatian Bungaran adalah perlunya optimalisasi produksi pertanian dari tataran hilir. Ia mengatakan optimalisasi ini merupakan produksi pasca panen atau off fam.

"Maksud saya performance pertanian itu tidak bisa dilihat dari segi on fam nya saja. Tapi sebenarnya di off fam juga harus terus bertumbuh. Menurut saya kalau tidak ada agro industri, maka pertanian kita akan menurun. Hanya saja kalau kita lihat PDB kita saat ini, bisa dipastikan on fam dan off famnya berjalan dengan baik. Itulah mengapa ekonomu kita saat ini selamat jika dibandingkan negara lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand atau Korea sekalipun. Kenapa? karena kita punya sistem agribisnis yang kuat," paparnya.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam beberapa kesempatan menyampaikan saat ini Kementan tengah mendorong berbagai perusahaan swasta untuk bersama-sama membangun pertanian Indonesia yang lebih maju, lebih mandiri dan lebih modern.

Sebagai komitmen jangka panjang, Kementan menghadirkan program hilirisasi melalui Gerakan Tiga Kali Ekspor (Geratieks) sebagai pendobrak kerja luar biasa dalam peningkatan ekspor Indonesia selama 4 tahun ke depan. Program ini juga biasa disebut sebagai gerakan pemersatu kekuatan seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir.

"Saya menitipkan pesan kepada eksportir agar kalian membuka lapangan pekerjaan secara luas. Kami butuh tangan eksportir agar rakyat kita banyak yang kerja. Caranya tingkatkan ekspor kalian menjadi tiga kali lipat," tutupnya.

Sebagaimana diketahui bersama, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni bulan lalu mengalami surplus sebesar US$ 1,27 miliar. Surplus ini terjadi karena nilai ekspor lebih besar dari impor. Adapun nilai ekspor secara keseluruhan pada bulan Juni 2020 mencapai US$ 12,03 milar. Sedangkan impor selama Juni sebesar US$ 10,76 miliar.

(ega/dna)