Joe Biden Menang Pilpres AS, Bakal Untungkan RI?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 10:18 WIB
Ucapan selamat dari para pemimpin dunia untuk Joe Biden-Kamala Harris; Rusia, China dan Turki absen
Foto: BBC World
Jakarta -

Sekretaris Eksekutif I Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (Komite PC-PEN) Raden Pardede ikut menanggapi pemilihan presiden Amerika Serikat atau Pilpres AS 2020. Menurut Raden, siapapun yang memenangkan Pilpres AS 2020 tak akan banyak membawa dampak signifikan buat ekonomi RI ke depan.

Sebab, apapun yang terjadi di AS baru bisa berdampak besar ke Indonesia saat hal tersebut mengganggu hubungan mereka dengan China. Dalam hal Pilpres AS 2020 ini, Donald Trump dan Joe Biden nyatanya memiliki kepentingan dagang internasional yang serupa terhadap China.

"Saya melihatnya antara Trump dengan Biden itu sebetulnya bedanya di mana. Kalau saya lihat, sebetulnya yang utama dampak daripada AS ini sekarang yang secara tidak langsung dampaknya sangat besar dengan kita sebetulnya adalah bagaimana hubungan mereka dengan China. Karena apapun dampaknya itu, itu secara tidak langsung kalau China terpengaruh, kita akan terpengaruh juga," ujar Raden dalam wawancara dengan tim Blak-blakan detikcom, Jumat (6/11/2020).

Beda antara Trump dan Biden terkait hubungan dengan China hanya dari sisi pendekatannya saja. Trump dianggap terlalu frontal dan kadang menekan China, sedangkan Biden lebih diplomatis.

"Tapi memang di dalam hal diplomasi mereka itu ya berbeda, ya lebih lembut, lebih diplomatis, satunya lagi lebih kasar dan apa adanya bahkan sering menekan," sambungnya.

Menurutnya, hubungan AS dan China itu sampai kapanpun akan terus menjadi rival. Ia mengibaratkan hubungan AS dan China dengan istilah Thucydides Trap.

"Jadi Thucydides Trap ini adalah cerita zaman di Yunani dulu, di zaman Yunani itu ada kerajaan Athena dan ada kerajaan satu lagi (Sparta). Tapi intinya ada persaingan di mana ada negara baru yang muncul yang dulu 'lu siapa lho nggak ada apa-apanya', kira-kira begitu," paparnya.

"Amerika itu tidak bisa memahami bagaimana orang (negara lain) yang dulunya sangat di bawah sana kok tiba-tiba sangat melampauinya," timpalnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2