Badai PHK Hampiri RI di Tengah Resesi, Ini 4 Faktanya

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 20:00 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Badai PHK menghampiri Indonesia, hal ini bagai menegaskan dampak resesi yang baru saja resmi terjadi di Indonesia. Ribuan buruh dari berbagai sektor terpaksa kehilangan pekerjaannya, mulai dari buruh pabrik sepatu hingga karyawan karaoke.

Menurut peneliti ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira badai PHK yang terjadi di Indonesia saat ini menjadi bukti nyata resesi terburuk yang dirasakan Indonesia selama 20 tahun terakhir.

Dirangkum dari pemberitaan detikcom, berikut ini 4 fakta penting badai PHK yang melanda Indonesia.

1. Resesi Terburuk

Bhima mengatakan badai PHK yang terjadi membuktikan Indonesia berada pada masa resesi terburuk. Pasalnya, bukan cuma terjadi pada perusahaan bermodal besar saja saat ini.

"PHK yang terjadi di berbagai sektor bukti nyata Indonesia menghadapi resesi terburuk dalam dua dekade terakhir. UMKM pun lakukan PHK, bukan hanya perusahaan besar, tahun 1998 UMKM cenderung lebih tahan guncangan," ujar Bhima kepada detikcom, Minggu (8/11/2020).

Di tengah kondisi resesi seperti ini memang banyak perusahaan yang memilih melakukan PHK. Pasalnya, produksi menurun karena permintaan juga menurun, alhasil perusahaan tidak mendapatkan keuntungan.

Namun, Presiden KSPI Said Iqbal mengatakan tidak semua perusahaan mengalami situasi yang darurat dan mewajarkan pemberlakuan PHK pada karyawannya.

"Dampak yang pertama pasti PHK karena produksi menurun, permintaan pasar menurun. Itu banyak terjadi di pabrik tekstil, garmen, sepatu, makanan minuman, komponen elektronik, hingga sektor penerbitan," ujar Iqbal kepada detikcom.

"Tapi ini bukan berarti PHK wajar, bagi perusahaan yang labour intensive (padat karya) misalnya, itu memang urgent, tapi di usaha padat modal itu nggak wajar," katanya.

2. Perusahaan Jangan Buru-buru PHK

Bhima menyarankan agar perusahaan tak buru-buru melakukan PHK karyawan untuk bertahan. PHK menurutnya harus jadi keputusan terakhir. Bhima mengatakan tanpa melakukan PHK, perusahaan bisa mempertahankan karyawannya yang memiliki kinerja baik.

Bila ekonomi dan bisnis sudah pulih, pengusaha pun tak perlu repot untuk mencari karyawan baru. Belum lagi melakukan rekrutmen karyawan baru juga butuh biaya yang tidak sedikit.

"Jadi PHK itu keputusan yang paling akhir. Kenapa? Karena waktu ekonomi beranjak pulih maka perusahaan yang pertahankan karyawan tidak perlu kesulitan untuk memulai lagi ke tingkat produksi normal," kata Bhima.

"Sementara itu, kalau PHK besar besaran yang susah adalah perusahaan sendiri karena harus keluar biaya rekrutmen bahkan pelatihan pegawai baru," ujarnya.

Belum lagi untuk melakukan PHK juga memiliki konsekuensi biaya bagi perusahaan. Bagi tiap karyawan yang di-PHK, perusahaan diwajibkan membayar pesangon. Alih-alih mengurangi beban, justru harus membayar.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2