Lumayan, Perjanjian Dagang 15 Negara Bisa Kerek Ekonomi RI 0,05%

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 11 Nov 2020 17:41 WIB
Pandemi Corona membuat sejumlah negara masuk jurang resesi. Indonesia termasuk yang diprediksi menyusul negara-negara tetangga seperti, Singapura Malaysia hingga Thailand.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) akan diteken pada 15 November 2020 mendatang oleh perwakilan 10 negara ASEAN, dan 5 di kawasan Asia-Pasifik. Perjanjian yang telah dibahas selama delapan tahun itu akhirnya telah memperoleh semua kesepakatan dari negara-negara yang tergabung.

"Pada hari ini, 11 November 2020 perundingan dinyatakan selesai. Perundingan ini dimulai pada tahun 2012, dan ini merupakan proses. Dan ini merupakan proses perundingan yang panjang, kurang lebih 8 tahun," kata Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dalam konferensi pers virtual, Rabu (11/11/2020).

Agus mengatakan, melalui perjanjian dagang RCEP ini, yang dipastikan mendongkrak ekspor dan investasi Indonesia, akan mendongkrak angka Produk Domestik Bruto (PDB) Tanah Air.

"Hal ini juga nantinya akan meningkatkan lapangan pekerjaan, kesejahteraan, meningkatkan PDB. RCEP ini (berlaku) 2021-2032, dan PDB akan naik sekitar 0,05%," tutur Agus.

Prediksi kenaikan PDB itu dilatarbelakangi oleh peran RCEP yang sangat besar bagi perekonomian dunia. RCEP yang terdiri dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalalam, Laos, serta 5 negara di Asia-Pasifik yakni China, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru, memiliki porsi 29% dari PDB dunia.

"Ini akan membawa efek dan sinyal positif pada pelaku usaha. Karena RCEP ini punya pangsa pasar 29,6% dari penduduk dunia, dan juga PDB 29% dari PDB dunia. Dan juga FDI (foreign direct investment) 29,3% dari FDI dunia," ungkap Agus.

Ia menuturkan, melalui RCEP ini peluang Indonesia masuk dalam rantai pasok global akan jauh lebih besar.

"Kerja sama ini yg memang sesuai dengan isu perundingan semua sudah selesai, berkaitan dengan akses pasar terutama, dan supply chain, intinya itu. Jadi ini merupakan sinyal positif bagi kita semua, khususnya pelaku usaha ke kawasan-kawasan yang berpartisipasi dalam RCEP," ungkapnya.

(eds/eds)