Gubernur Bank Sentral AS: Ekonomi Pulih tapi ke Arah Berbeda

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 13 Nov 2020 11:00 WIB
Jerome Powell
Jerome Powell/Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

Pandemi COVID-19 memang sangat mengganggu roda perekonomian dunia. Namun kini, ekonomi dunia disebut sudah menuju ke fase pemulihan.

Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed, Jerome Powell mengungkapkan perekonomian global memang pulih. Tetapi akan banyak tantangan yang muncul karena menuju ke perekonomian yang berbeda dari sebelumnya.

"Kami pulih, tapi ke ekonomi yang berbeda," kata dia dalam acara diskusi virtual dalam Forum Bank Sentral Eropa dikutip dari CNN, Jumat (13/11/2020).

Dia mengungkapkan pandemi ini memang menciptakan hal-hal baru seperti percepatan transformasi digital, bekerja jarak jauh hingga otomatisasi. Hal ini akan memberikan dampak jangka panjang untuk cara orang hidup dan bekerja.

Menurut dia, kemajuan teknologi merupakan hal yang sangat positif. Namun akan ada gangguan-gangguan kecil jika pasar tidak segera menyesuaikan diri dengan kondisi normal yang baru.

Misalnya ada kemungkinan pekerja bergaji rendah, hingga orang yang membutuhkan interaksi tatap muka seperti pekerja ritel atau restoran akan merasakan dampaknya. Bahkan di antara mereka bahkan sudah terkena PHK akibat pandemi ini.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Menurut Powell ekonomi setelah pandemi juga memiliki risiko kurang produktif. Hal ini karena perempuan terpaksa berhenti dari pekerjaan karena harus merawat anak selama krisis dan memastikan anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Amerika Serikat (AS) sudah menggelontorkan triliunan dolar untuk menahan dampak pandemi ke perekonomian. Namun masih banyak yang menganggur dan berada di posisi yang sulit.

Powell memang sudah lama menyebut jika ekonomi membutuhkan lebih banyak stimulus dan pemerintah agar mampu melewati krisis.

"Saya rasa kita perlu berbuat lebih banyak. Risiko utama saat ini adalah penyebaran kasus positif berlanjut di AS," kata dia.

Dengan pernyataan Powell, saham di AS mencatatkan pelemahan. Pasar justru mengandalkan dan menanti vaksin sebagai harapan baru.

(kil/ara)