Mangkrak Bertahun-tahun, Investasi Rp 474 T Akhirnya Rampung

Trio Hamdani - detikFinance
Senin, 16 Nov 2020 12:22 WIB
PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangungan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng) menyelenggarakan acara syukuran atas keberhasilan pembangungan dan pengoperasian Jaringan Tegangan Tinggi Tegangan Listrik (TL) dan Gardu Induk (GI) 150 kV Muara Labuh, Kamis (20/12/2019). Pengoperasian Jaringan tersebut sebagai jawaban untuk pemanfaatan pembangkit listrik tenaga panas bumi Muara Labuh, Solok Selatan. Adapun proyek tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu 14 bulan saja. Acara peresmian diadakan di halaman Gardu Induk Muara Labuh
Ilustrasi/Foto: Istimewa/PLN
Jakarta -

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyatakan pihaknya sudah mengeksekusi investasi mangkrak senilai Rp 474,9 triliun dari total Rp 708 triliun yang mandek.

Beberapa proyek investasi mangkrak yang telah dieksekusi diantaranya pembangkit listrik dan pabrik mobil listrik di Jawa Barat.

"Investasi mangkrak Rp 708 triliun ini sudah kita selesaikan 67% atau Rp 474,9 triliun, di mana di dalamnya termasuk beberapa investasi yang ada di Jawa Barat seperti contoh Tanjung Jati Power di Cirebon. Kemudian Hyundai yang sekarang lagi jalan. Kemudian listrik yang ada di sungai, PLTS Sungai Cirata," kata dia dalam West Java Investment Summit 2020 yang tayang virtual, Senin (16/11/2020).

Berkat terealisasinya investasi mangkrak tersebut membuat porsi investasi asing atau foreign direct investment (FDI) di Indonesia masih cukup besar, walaupun mengalami penurunan imbas pandemi COVID-19.

"Ada satu hal menarik, menurut data survei dari berbagai lembaga bank dunia mengatakan bahwa hampir semua negara terjadi penurunan dari foreign direct investment itu kurang lebih sekitar 30% sampai 40%. Namun di Indonesia itu turunnya tidak lebih dari 10%," sebutnya.

Dirinya menjelaskan penyebab investasi mangkrak bertahun-tahun di Indonesia. Ada tiga persoalan utama.

"Yang pertama adalah persoalan ego sektoral antar kementerian. Yang kedua aturan tumpang tindih antara kabupaten/kota/provinsi dan pusat," bebernya.

Lalu yang ketiga sekaligus terakhir, investasi mangkrak disebabkan oleh persoalan penyediaan lahan.

"Yang ketiga adalah ada persoalan-persoalan tanah yang harus saya jujur mengatakan dalam bahasa saya itu adalah adanya pemain-pemain yang dapat dirasakan tapi tidak bisa dipegang. Nah ini lah kira-kira persoalan ini," tambahnya.

(toy/eds)