Kerek Ekonomi ke 6%, RI Butuh Investasi Rp 4.983 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 17 Nov 2020 13:06 WIB
Petugas menyusun uang di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Jumat (17/6/2016). Bank BUMN tersebut menyiapkan lebih dari 16.200 Anjungan Tunai Mandiri (ATM) untuk melayani kebutuhan uang tunai saat lebaran. BNI memastikan memenuhi seluruh kebutuhan uang tunai yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp 62 triliun atau naik 8% dari realisasi tahun sebelumnya. (Foto: Rachman Harryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pandemi Corona membuat ekonomi nasional mengalami kontraksi selama dua kuartal berturut-turut dan kini sudah masuk ke jurang resesi. Pemerintah berupaya untuk memulihkan dampak pandemi ini dan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Untuk mendukung pertumbuhan yang lebih tinggi dibutuhkan investasi yang besar. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan agar tercapai pertumbuhan ekonomi 6% maka dibutuhkan investasi senilai Rp 4.983,2 triliun.

"Kalau kita ingin pertumbuhan ekonomi kita 6%, ini target yang akan dilakukan sampai 2024," kata Bahlil dalam acara Webinar PT BNI Asset Management (BNI-AM) menyelenggarakan acara Market Outlook 2021 dengan tema "Resilience to Counter Economic Turbulence", Selasa (17/11/2020).

Dia mengungkapkan untuk mencapai target pada 2024, tahun ini realisasi investasi harus sebesar RP 817,2 triliun. Kemudian 2021 Rp 858,5 triliun, pada 2022 Rp 968,4 triliun, 2023 Rp 1.088,8 triliun dan 2024 Rp 1.239,3 triliun.

"Ini kami diberikan target oleh Bappenas Rp 886 triliun pada 2020 sebelum pandemi COVID-19 namun pandemi kita revisi jadi Rp 817,2 triliun nah sampai September kita sudah realisasi Rp 611,6 triliun," jelasnya.

Bahlil mengungkapkan untuk mencapai target tersebut BKPM memfasilitasi investor untuk meningkatkan investasi. Mulai dari meyakinkan investor jika Indonesia adalah surganya investasi.

Kemudian mengawal dalam layanan perizinan, mengawal dalam financial closing, mengawal investor secara end to end dalam realisasi investasi hingga mengawal tahap produksi.

(kil/eds)