Biaya Logistik RI Termahal di Dunia, Pelindo III-KAI Duet

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 12:01 WIB
Pelindo III
Ilustrasi/Foto: dok Pelindo III
Jakarta -

PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI). MoU ini bertujuan demi mengurangi biaya logistik di Indonesia yang dianggap terlalu tinggi, melebihi rata-rata biaya logistik negara maju di dunia.

Penandatanganan MoU ini diharapkan mampu memperkuat komitmen kedua belah pihak dalam mengembangkan bisnis-bisnis logistik. Sehingga kelak biaya logistik nasional bisa dikurangi dari total hari ini.

"Dengan ditandatanganinya nota kesepahaman ini diharapkan menjadi bentuk komitmen bersama dan landasan bagi para pihak untuk melaksanakan sinergitas ini di dalam pengembangan bisnis-bisnis logistik dengan kerja sama pemanfaatan fasilitas aset serta pengembangan supply chain dalam rangka peningkatan produktivitas dan profitabilitas masing-masing perusahaan," kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo membuka agenda Penandatanganan MoU tersebut, Jumat (20/11/2020).

Didiek menjelaskan, biaya logistik nasional saat ini cukup tinggi, sekitar 26% dari total PDB. Angka ini terhitung tinggi jika dibandingkan negara-negara maju yang biayanya di rentang 8%-12% dari PDB.

"Karena PDB kita sedemikian besar, Rp 3.000 triliun lebih maka 26% itu angka yang luar biasa," kata Didek.

Mengutip laman resmi Kementerian Perhubungan, biaya logistik Indonesia saat ini memang tercatat sebagai biaya logistik paling tinggi di dunia. Biaya logistik di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 15%, serta AS dan Jepang masing-masing sebesar 10%.

Selain biaya yang sangat tinggi, mutu pelayanan logistik di Tanah Air juga masih terbilang buruk. Sebagai contoh, waktu jeda untuk barang-barang impor mencapai 5,5 hari dan biaya angkutnya juga yang mahal. Kondisi itu ditambah prasarana logistik yang masih konvensional, seperti jalan, pelabuhan, dan hubungan antar moda.

Kemudian, belum terbangunnya konektivitas antara satu lokasi dengan dengan lainnya, serta pengiriman kontainer ke daerah jauh lebih mahal apabila dibandingkan dengan mengirim kontainer ke luar negeri.

Selain biaya bongkar muat di pelabuhan yang tinggi, akses jalan dari dan menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara selalu macet dan tidak pernah terselesaikan. Akibatnya, sangat sulit bagi perusahaan angkutan barang untuk mengoptimalkan perputaran kendaraannya.

Hal-hal semacam ini, dapat membuat para investor enggan menanamkan investasinya di Tanah Air. Bila dibiarkan terus mahal bakal berdampak pada daya saing Indonesia hingga pada pengurangan ekspor keluar negeri.

(eds/eds)