3 Fakta Utang Pemerintah Bengkak Gara-gara Pandemi Corona

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 19:00 WIB
utang pemerintah indonesia
Foto: Zaki Alfarabi/Infografis
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan total utang pemerintah naik drastis di tengah pandemi COVOD-19. Hal itu terlihat dari pelebaran defisit APBN di tahun 2020.

Pelebaran defisit APBN tidak hanya terjadi di Indonesia, Sri Mulyani bilang hal itu terjadi dihampir seluruh negara yang terdampak COVID-19. Dengan kata lain, pelebaran defisit sebagai langkah pemerintah memenuhi kebutuhan anggaran penanganan COVID-19 serta pemulihan ekonomi nasional. Berikut fakta-faktanya:

1. Defisit APBN Melebar

Sri Mulyani mengatakan, banyak negara menjadikan APBN sebagai senjata terakhir menangani pandemi Corona. Salah satunya dalam memenuhi kebutuhan anggaran penanganan.

"Tahun 2020 ini kita perkirakan APBN defisit 6,34%, kenaikan luar biasa besar dalam rangka untuk menolong perekonomian, menangani COVID, dan bantu masyarakat," kata Sri Mulyani saat menjadi pembicara kunci di acara serap aspirasi implementasi UU Cipta Kerja bidang perpajakan yang digelar secara virtual, Kamis (19/11/2020).

Defisit APBN meningkat drastis ke level 6,34% terhadap PDB atau setara Rp 1.039,2 triliun dari yang sebelumnya ditargetkan di level 1,76% atau setara Rp 307,2 triliun. Meningkatnya defisit APBN ini juga dilakukan pemerintah guna memenuhi kebutuhan belanja yang meningkat menjadi Rp 2.739,16 triliun. Defisit juga diartikan sebagai selisih dari penerimaan dan belanja negara, untuk menutupi selisih itu maka pemerintah akan melakukan pembiayaan atau utang.

2. Rasio Utang Meningkat

Dengan pelebaran defisit ini, dikatakan Sri Mulyani membuat rasio utang pemerintah meningkat di tahun 2020.

"Dengan seiring penggunaan fiskal untuk countercyclical, maka defisit APBN di banyak negara atau semua negara alami kenaikan. Ini kemudian sebabkan rasio utang terhadap PDB meningkat," ungkapnya.

3. Utang Pemerintah Tembus Rp 5.756 T

Hingga akhir September 2020, total utang pemerintah mencapai Rp 5.756,87 triliun. Dengan angka tersebut maka rasio utang pemerintah sebesar 36,41% terhadap PDB. Adapun, total utang pemerintah itu terdiri dari pinjaman sebesar Rp 864,29 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 4.892,57 triliun.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengaku pelebaran defisit masih terjadi di tahun 2021. Dia mengatakan, defisit APBN 2021 berada di level 5,7%. Dia mengatakan, peningkatan rasio utang pun terjadi di seluruh negara yang terdampak COVID-19.

(hek/fdl)