Marak Kasus Jual Beli Data Pribadi, Dijual ke Mana?

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 17:05 WIB
Ilustrasi kasus jual beli data nasabah
Foto: Ilustrasi: Edi Wahyono
Jakarta -

Kasus kebocoran atau jual beli data kembali terjadi. Kali ini datang dari aplikasi Muslim Pro yang dikabarkan telah menjual data lokasi puluhan juta umat Islam di seluruh dunia ke Militer Amerika Serikat (AS). Sebelumnya kasus serupa juga terjadi pada aplikasi e-commerce dalam negeri seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Lalu, kepada siapa sebenarnya data-data pribadi tersebut diperjualbelikan?

Menurut Deputi Direktur Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Institute for Policy Research and Advocacy/ELSAM) Wahyudi Djafar, data pribadi bisa diperjualbelikan kepada berbagai pihak seperti swasta bahkan hingga kepada pemerintah. Kegunaannya pun berbeda-beda bagi masing-masing pihak tersebut.

"Data ini ketika dilakukan proses datafikasi akan menghasilkan sejumlah rekomendasi yang bisa digunakan untuk pengembangan bisnis, pengembangan pemasaran dan sebagainya. Dari itulah, semua pihak hari ini baik pemerintah maupun swasta semuanya berkepentingan untuk mencari data, untuk menambang data, untuk melakukan datafikasi terhadap data," ujar Wahyudi kepada detikcom, Jumat (20/11/2020).

Pemerintah misalnya, sambung Wahyudi, mempunyai kepentingan untuk mengidentifikasi atau memprediksi kerusuhan sosial misalnya, atau untuk kepentingan mengontrol warganya.

Sedangkan swasta punya kepentingan yang lebih beragam tergantung masing-masing platformnya.

Hal yang sama diungkap oleh Pengurus Divisi Akses Informasi Southeast Asia Freeedom of Expression Network (SAFEnet) Nabillah Saputri. Paling umum, data pribadi diperjualbelikan untuk kepentingan algoritma menarik konsumen.

"Pihak swasta ini biasanya menggunakan untuk iklan, untuk mengisi algoritma-algoritma di platformnya, hingga akhirnya ada personalisasi iklan yang sebenarnya kita nggak mau lihat jadi ngelihat," ucapnya.

Sebab, bagi pihak swasta data seperti tambang emas. Namun, masyarakat di Indonesia ini tampaknya belum terlalu sadar betapa berharganya data pribadinya buat pihak swasta tersebut.

"Di Indonesia ini masih belum punya budaya bahwa data pribadi itu adalah sebuah tambang emas sebenarnya nggak keliatan, karena kan ketika kita mengakses sesuatu memang sih gratis, tapi tidak melihat dibalik itu sebenarnya data pribadi itu justru malah yang dipegang dan sebagainya, itu digunakan apa kita nggak tau pasti," timpalnya.

(eds/eds)