Ekonomi Thailand Diproyeksi Paling Lama 'Sembuh' di Asia Tenggara

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 20 Nov 2020 22:45 WIB
bendera Thailand
Foto: Internet
Jakarta -

Pandemi virus COVID-19 dan protes politik yang sedang berlangsung membuat ekonomi Thailand dalam kondisi yang sangat buruk.

"Kami tahu bahwa itu sangat bergantung pada pariwisata, dan sektor itu telah hancur akibat guncangan COVID-19," kata Euben Paracuelles, kepala ekonom Asean di Nomura melansir CNBC, Jumat (20/11/2020).

"Apa yang kami (telah lihat) dalam episode politik semacam ini di masa lalu adalah ini gangguan yang sangat besar bagi pemerintah untuk benar-benar melaksanakan rencana fiskal ini," katanya kepada "Squawk Box Asia" CNBC.

Demonstrasi di seluruh Thailand sebagian besar berlangsung damai, tetapi pengunjuk rasa, kontra pengunjuk rasa dan polisi bentrok minggu ini dalam kekerasan terburuk sejak dimulai pada Juli.

Para pengunjuk rasa menargetkan markas polisi Bangkok pada hari Rabu setelah petugas penegak hukum menembakkan gas air mata bekas dan meriam air ke para demonstran sehari sebelumnya.

Para pengunjuk rasa menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha dan reformasi monarki.

Seorang analis mengatakan kerusuhan itu dapat menyebabkan kudeta militer lagi, sekitar enam tahun setelah kudeta yang direkayasa oleh Prayuth.

Paracuelles mengatakan ketidakpastian politik seperti itu akan membebani ekonomi lebih besar dalam beberapa bulan mendatang.

Dia menambahkan bahwa pemberian uang tunai yang rencananya akan dicairkan pemerintah jauh dari yang diharapkan di awal, yaitu pada saat Thailand membutuhkan konsumsi swasta untuk tetap bertahan, setidaknya untuk menyediakan beberapa penyangga bagi perekonomian.

"Pemulihan akan datang, tetapi sangat lambat dan mungkin salah satu yang paling lambat dan terlemah di kawasan ini," katanya.

Nomura memprediksi bahwa Bank of Thailand akan memangkas suku bunga kebijakannya dari 0,5% menjadi 0% dalam beberapa bulan mendatang untuk mendukung pemulihan negara yang rapuh.

(toy/eds)