Rizal Ramli Sebut RI Pengemis Utang, Kemenkeu Buka Suara

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 23 Nov 2020 11:27 WIB
Gedung Kementerian Keuangan
Gedung Kementerian Keuangan/Foto: Yulida Medistiara/detikFinance
Jakarta -

Belum lama ini ekonom senior, Rizal Ramli kembali menyinggung kondisi utang pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wapres Ma'ruf Amin. Hal itu disampaikan Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman lewat akun Twitter @RamliRizal.

Dalam cuitannya, Raja Kepret ini menyebut Indonesia sebagai 'pengemis utang bilateral'. Hal itu pun langsung ditanggapi oleh Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi (KLI) Kementerian Keuangan, Rahayu Puspasari lewat akun Twitternya @rahayupuspa7.

Dalam cuitannya, Puspa membantah jika Indonesia dianggap sebagai pengemis utang. Menurut dia, pinjaman atau utang merupakan instrumen pelengkap bagi pemerintah yang didasarkan atas kebijakan kerja sama strategis yang komprehensif dan sifatnya mutual dengan negara lain sebagai development partner.

"Pemerintah tidak mengemis ke negara lain untuk mendapatkan pinjaman, karena kondisi Indonesia sebagai negara tujuan investor masih sangat baik dan terpercaya (investment grade)," seperti yang dikutip detikcom dari akun Twitter @rahayupuspa7, Senin (23/11/2020).

Pada kesempatan ini, Puspa juga menjelaskan bahwa imbal hasil atau yield dari surat berharga negara (SBN) 10 tahun terus menurun. Hal itu berbanding terbalik dengan yang disampaikan Rizal Ramli lewat akun Twitternya.

Berdasarkan data Bloomberg, Puspa menyebut yield SBN 10 tahun khusus rupiah mengalami penurunan sebesar minus 13,5%. Sementara yield SBN valas juga mengalami penurunan dengan persentase yang jauh lebih besar dibandingkan yield SBN Rupiah sebesar -34,6% (year to date ).

"Ini menunjukkan bahwa bunga dari surat utang yang dikeluarkan pemerintah tidak semakin mahal, sebaliknya malah semakin menurun," cuit dia.

Penjelasan lengkap Kemenkeu di halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2