3 Fakta Janet Yellen, Menkeu Wanita Pertama di Negeri Paman Sam

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2020 20:55 WIB
Janet Yellen
Foto: CNN.com
Jakarta -

Presiden terpilih AS Joe Biden dikabarkan bakal menunjuk Janet Yellen sebagai Menteri Keuangan AS di kepemimpinannya nanti. Bila terwujud sesuai wacana tersebut, maka Yellen bakal menjadi wanita pertama yang menduduki posisi penting itu dalam sejarah AS.

Berikut 3 fakta seputar Janet Yellen yang bakal jadi Menkeu wanita pertama AS:

1. Yellen Mantan Penasihat Ekonomi Bill Clinton

Ekonom berusia 74 tahun itu sebelumnya menjabat sebagai kepala bank sentral Amerika dan sebagai penasihat ekonomi untuk mantan Presiden Bill Clinton. Prestasinya di antaranya membantu mengarahkan pemulihan ekonomi AS setelah krisis keuangan 2007 dan resesi saat itu.

Mengutip CNN, Selasa (24/11/2020), pemilihan Janet Yellen diyakini didorong oleh krisis besar dan rapuhnya ekonomi AS yang akan terjadi pada tahun mendatang. Kepala Departemen Keuangan akan ditugasi memimpin ekonomi Amerika keluar dari pandemi serta mempersempit jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

2. Suka Buat Terobosan

Janet Yellen sendiri dikenal sebagai sosok yang suka melakukan terobosan. Sebagai Gubernur Federal Reserve dari 2014 hingga 2018, Yellen telah menjalankan tugasnya sebagai salah satu wanita paling kuat di dunia. Yellen juga kemungkinan akan disambut oleh investor karena dia dikenal akan kemampuannya melihat pasar selama masa jabatannya memimpin The Fed.

"JanetYellen brilian dan memiliki rekam jejak yang tidak bisa digoyahkan. Dia tampaknya populer di semua faksi, dari pasar keuangan hingga Main Street." kata Greg Valliere, kepala strategi kebijakan AS di AGF Investments.

3. Pekerja dan Melindungi Ekonomi AS Jadi Fokus Kebijakan Yellen

Sebagai ketua Federal Reserve AS, Yellen dikenal karena lebih memusatkan perhatian pada dampak kebijakan bank terhadap pekerja dan meningkatnya ketidaksetaraan di Amerika.

Sejak meninggalkan jabatannya pada tahun 2018, Janet Yellen telah berbicara tentang perlunya pemerintah berbuat lebih banyak untuk melindungi ekonomi AS dari dampak pandemi virus corona.

(fdl/fdl)