Catatan Penting buat UMKM Biar Nggak Stres Mikirin Arus Kas

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 27 Nov 2020 18:40 WIB
ilustrasi uang
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Mempertahankan bisnis agar tetap bernapas di tengah pandemi virus Corona (COVID-19) merupakan tantangan besar bagi pengusaha. Tak sedikit pengusaha terpaksa mengorek simpanan jangka panjang demi menjaga kelangsungan bisnis saat pandemi.

Mereka juga merasa was-was setelah mengorbankan simpanan jangka panjangnya untuk bisa bertahan hidup selama 1-2 bulan saat pandemi. Namun, menurut Lead Financial Trainer & Founder QM Financial Ligwina Hananto, perasaan cemas akan ketersediaan kas yang terbatas hanya untuk beberapa bulan justru akan membuat para pelaku usaha stres, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Ini bulan November, saya punya cash untuk hidup sampai bulan apa. Kalau dia terus-terusan mikirnya saya jadi nggak bisa gaji orang, pasti stress banget. Tapi kalau dia bisa bilang saya punya nih untuk bisa persiapan Januari-Maret 2021," ungkap Ligwina dalam webinar TopKarir Indonesia, Jumat (27/11/2020).

Ligwina mengatakan ketersediaan kas jangka pendek bukanlah suatu hal yang harus terus-menerus dikhawatirkan. Menurutnya, di tengah pandemi ini memang wajar bagi pelaku UMKM untuk hanya memiliki kas tiga bulanan.

"Jadi akhirnya kita punya cash reserve untuk hidup 3 bulan, 3 bulan, 3 bulan. Untuk bisnis kecil sangat berguna," ujar dia.

Ia sendiri sebagai pelaku usaha mengaku hanya mempertahankan perusahaan dengan kas kecil-kecilan. Untuk memperolehnya, Ligwina melakukan efisiensi besar-besaran.

"Benar-benar waktu itu mana pengeluaran yang paling besar yang harus kita save, dan bagaimana caranya agar karyawan nggak di PHK. Nah jadi ada yang harus dikorbankan. Akhirnya kita memutuskan menutup kantor kita, semua kerjaan pindah ke rumah, dan kita save banyak karena nggak perpanjang sewa kantor," tutur Ligwina.

Selain melakukan efisiensi ia juga berupaya memperoleh kas kecil-kecilan itu dengan menciptakan produk yang merupakan hasil inovasi, yang menyesuaikan kebutuhan klien saat pandemi.

"Jadi saya tanyakan satu-satu tim saya tanyakan soal dana darurat. Di situ saya temukan, kalau tim saya satu-satu saja membutuhkan dana darurat, pasti klien saya butuh. Itu akhirnya kelas-kelas yang kami tawarkan ke klien-klien korporasi, kelas finansial di kantor-kantor. Nah yang paling banyak sesinya sehat mental, sehat finansial," pungkasnya.

(hns/hns)