Dihantam Corona, RI Kebanjiran 9,7 Juta Penganggur

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 28 Nov 2020 20:49 WIB
Pengangguran
Foto: Fuad Hasim
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ada 9,7 juta orang di Indonesia menganggur. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengatakan, jumlah pengangguran tersebut meningkat akibat dampak dari pandemi COVID-19.

" Data BPS menunjukkan bahwa pada bulan Agustus 2020 ada sekitar 138 juta angkatan kerja, yang terdiri dari 128 juta penduduk yang bekerja dan 9,7 juta penganggur dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) mencapai 7,07%. Ada kenaikan jumlah penganggur dan TPT yang signifikan, ini akibat dampak pandemi," ungkap Ida dalam webinar Kompas Talks dengan Kagama, Sabtu (28/11/2020).

Selain itu, BPS juga mencatat 29,12 juta penduduk Indonesia dengan usia kerja memang terdampak pandemi Corona.

"Hal ini tentu menambah beban di sektor ketenagakerjaan. Selain itu, ada tambahan 2- 2,5 juta angkatan kerja baru yang masuk ke pasar kerja setiap tahunnya," jelas Ida.

Masih dari sisi pekerja, Ida juga membeberkan persoalan kompetensi dan produktivitas pekerja Indonesia jika dibandingkan dengan negara tetangga.

"Data menunjukkan produktivitas pekerja Indonesia masih tertinggal. Menurut data ILO (International Labour Organization/Organisasi Buruh Internasional) tingkat pertumbuhan output tahunan pekerja kita masih rendah bahkan di bawah rata-rata negara dengan penghasilan menengah bawah. Tingkat produktivitas pekerja kita juga di bawah negara pesaing kita seperti Vietnam," ungkapnya.

Adapun penyebab dari persoalan kompetensi itu ialah latar belakang pekerja Indonesia yang sebagian besar masih berpendidikan SMP ke bawah.

"Masih besarnya persentase pekerja dengan pendidikan SMP ke bawah mengakibatkan banyak pekerja yang masih memiliki skill atau kompetensi rendah. Meskipun ada sedikit angin segar untuk masa depan apabila kita melihat pada profil pemuda berumur 16-30 tahun yang bekerja, di mana sudah lebih dari 60% yang berpendidikan SMA ke atas," ujarnya.

Tak sampai di situ, dampak lain dari pandemi Corona ialah mempersempit ketersediaan lapangan pekerjaan. Selain itu, menurut Ida persoalan ketersediaan lapangan pekerjaan ini juga diakibatkan oleh iklim berusaha di Indonesia yang tak bersahabat.

"Di tengah besarnya kebutuhan terhadap penciptaan lapangan kerja, kita menghadapi tantangan bahwa iklim penciptaan lapangan kerja baru masih belum bersahabat. Data menunjukkan peringkat Kemudahan Berusaha saat ini berada di peringkat 73, bahkan kalau kita lihat lebih detail lagi dalam indeks tersebut, misalnya dalam aspek mendirikan usaha, peringkat kita masih 140, jauh di bawah negara-negara pesaing kita," pungkasnya.

(hns/hns)