Mentan: Kementerian Lain yang Buka Keran Impor, Saya yang Didemo

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 13:03 WIB
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menilai generasi muda menjadi harapan bangsa di tengah menghadapi situasi ketidakpastian akibat pandemi.
Foto: Dok. Kementan
Jakarta -

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengklaim bahwa dirinya tidak suka kebijakan importasi komoditas pangan. Katanya, kewenangan tentang impor tak ada di bawah kementeriannya, melainkan di kementerian lain.

"Kementan hanya punya kewenangan untuk produktivitas. Saya paling tidak suka impor, tapi bagaimana kalau kementerian lain yang membuka keran itu, yang didemo saya oleh petani. Oleh karena itu tidak perlu ada yang disalahkan, tapi yang perlu dipersiapkan adalah kualitas dari produktivitas kita yang harus lebih sesuai dengan pasar yang ada," kata Syahrul dalam webinar bertajuk 'Kedaulatan Pangan dan Energi', Senin (30/11/2020).

Syahrul menjelaskan tugasnya selama ini hanyalah membuat Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). Impor besar yang ada di kewenangannya diakui hanya daging sapi dan bawang putih.

"Mentan hanya membuat RIPH untuk menentukan syarat-syarat yang bisa diimpor seperti bawang putih tidak boleh menggunakan kotoran babi misalnya, ini ekstrim-nya. Yang menentukan izin itu bukan di kita, ini kadang-kadang salah persepsi. Importasi yang besar itu yang langsung bersentuhan dengan kementan hanya 2, yaitu daging sapi 200-300 lebih ton, kedua bawang putih. Ada kah (impor) lain yang masuk? Ada. Tetapi tidak melalui rekomendasi Kementan," jelasnya.

Menurutnya, bukan tanpa alasan Indonesia impor daging sapi dan bawang putih. Sebab, Indonesia juga ekspor dalam jumlah besar ke kedua negara asal komoditas tersebut seperti India dan China.

"Persoalannya adalah kenapa daging sapi masuk, karena kita ekspor ke India juga besar banget. Ke China itu eksportasi kita ke China itu di atas Rp 90 triliun, data ini. Importasi itu di bawah 50, ini pembicaraan bilateral antar negara yang harus dipahami oleh semua," imbuhnya.

Namun Syahrul tidak mau menyalahkan soal impor. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kualitas dan daya saing produk dalam negeri. Dia optimistis kinerja sektor pertanian akan terus tumbuh meski tertekan pandemi virus Corona (COVID-19), terbukti dari pencapaian di sektor pertanian yang tetap tumbuh di saat banyak sektor lain yang turun.

"Saya yakin kalau kita mau lihat data sedikit 2020 ini kuartal II 16,24% yang lain minus semua. Kemudian kuartal III kami masih tumbuh menjadi 2,15%, di saat orang bilang nggak mungkin lagi. Kuartal IV saya masih berusaha bahkan saya akan lakukan percepatan," ucapnya.

(zlf/zlf)