Pamer Potensi Kredit Karbon RI, Luhut: Kita Super Power!

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 30 Nov 2020 18:36 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, topik emisi karbon ikut jadi sorotan. Menurut analisa terbaru dari jurnal Nature Climate Change, karantina global akibat dari COVID-19 telah mengurangi emisi karbon setiap harinya.

Sejak diberlakukannya karantina global atau wilayah di berbagai negara sejak awal April lalu, membuat emisi gas karbon dioksida turun drastis hingga 17% atau 17 juta ton dari tingkat rata-rata karbon dioksida harian tahun 2019. Penurunan itu adalah yang terendah sejak 2006 lalu.

Namun, menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, tanpa adanya pembatasan sosial akibat COVID-19 pun, Indonesia senantiasa mencatatkan emisi karbon yang rendah.

Emisi karbon yang rendah pada akhirnya bernilai potensial buat penghasilan dan meringankan perbaikan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) sebuah negara. Sebab, suatu negara yang emisi karbonnya cukup rendah atau di bawah batas yang ditentukan dapat menjual porsi emisi yang belum ia pakai ke negara lain. Perdagangan emisi ini disebut juga kredit karbon.

Luhut pun memamerkan potensi kredit karbon atau carbon credit Indonesia. Menurutnya, kredit karbon yang dimiliki Indonesia adalah yang tertinggi di dunia hingga mencapai 80% dari total karbon kredit dunia.

"Indonesia punya 75-80% kredit karbon dunia yang datang dari hutan, mangrove, lahan gambut, padang lamun dan terumbu karang," ujar Luhut dalam webinar internasional bertajuk 'Indonesia Omnibus Law for a Better Business, Better World, Senin (30/11/2020).

Ia merinci dengan total luas areal mencapai 3,31 juta hektare, mangrove Indonesia mencapai 48% dari total areal mangrove yang ada di Asia dan 20% dari total lahan mangrove dunia.

"Nilai penyimpangan karbon kita dari lahan mangrove saja bisa mencapai 950 ton karbon/hektare atau kalau dijumlah dari seluruh areal mangrove si Indonesia setara dengan 3,1 gigaton karbon," ungkapnya.

Lalu, dari areal lahan gambut. Indonesia punya luas lahan gambut mencapai 7,5 juta hektare dengan kedalaman 50 meter, menjadikannya sebagai areal gambut terbesar di dunia.

Adapun total nilai penyimpanan karbon dari lahan gambut Indonesia itu bisa mencapai 55 gigaton setara dengan 37% penyimpanan karbon di daerah tropis di seluruh dunia.

"Pada dasarnya, kita bisa menyebut kredit karbon (Indonesia) super power secara global," sambungnya.

Terakhir, ada lahan hutan hujan tropis yang total luasnya mencapai 125,9 juta hektare, terbesar ketiga di dunia. Nilai simpanan karbonnya bisa mencapai 200 ton karbon/hektare atau totalnya di seluruh Indonesia mencapai 25,18 gigaton.

(eds/eds)