Negara Ini Minoritas Muslim, Tapi Ekspor Produk Halalnya Juara Dunia

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 15:37 WIB
makanan halal palsu
Ilustrasi/Foto: iStock/China Daily
Jakarta -

Ternyata, eksportir produk-produk halal terbesar di dunia bukanlah negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy(SGIE) 2020/21 yang mencakup kondisi ekonomi halal 2019, 5 negara eksportir produk halal terbesar adalah Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Prancis, dan Rusia.

"Sekitar US$ 255 miliar (Rp 3.615 triliun) transaksi perdagangan di dunia berasal dari produk halal, yang 5 negara eksportir terbesarnya adalah negara yang bukan berpenduduk mayoritas muslim," ungkap CEO and Managing Director DinarStandard Rafi-uddin Shikoh dalam virtual event Reimagine: Halal in Asia 2020yang bertema Asia's Golden Age: 2021 and Beyond for Halal Ecosystem, Rabu (2/12/2020).

Sementara itu, negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim seperti Uni Emirat Arab (UEA) menduduki posisi ke-8, Turki ke-11, Indonesia ke-12, Malaysia ke-19, dan Brunei Darussalam menduduki posisi ke-169.

Indonesia sendiri mencatat nilai ekspor sebesar US$ 7 miliar atau sekitar Rp 99 triliun (kurs Rp 14.187) yang berkontribusi 2,8% pada total ekspor produk halal di dunia.

Kembali ke 5 negara eksportir terbesar produk halal itu, 4 di antaranya tengah mencatat kasus tertinggi virus Corona (COVID-19) di dunia. Misalnya saja AS yang menduduki posisi nomor 1 dengan kasus COVID-19 terbanyak, kemudian kedua adalah Brasil, ketiga India, dan keempat Rusia.

Menurut Rafi-uddin, hal ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya rantai pasok produk halal di dunia.

"Rantai pasok produk halal menjadi terganggu, dan menciptakan 2 hal. Pertama kekhawatiran akan ketahanan pangan, atau produk esensial, farmasi, ketersediaan obat untuk negara-negara dengan penduduk mayoritas muslim," ujarnya.

Meski begitu, menurut Rafi-uddin kondisi itu juga menciptakan peluang bagi produsen produk-produk halal di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, untuk mengambil alih kekosongan rantai pasok dari para eksportir.

"Kedua, kekhawatiran akan gangguan rantai pasokmendorong upaya untuk mencari pasokan yang lebih dekat ke rumah, atau sumber alternatif. Hal ini menciptakan banyak peluang bagi negara-negara lain untuk berkontribusi dalam rantai pasok produk halal," tandas Rafi-uddin.

(eds/eds)