Booming Vespa 'Bangke' Lebih Mahal dari Mobil Second, Musiman?

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 06 Des 2020 19:59 WIB
Bengkel Vespa (Hendra Kusuma-detikcom)
Foto: Bengkel Vespa (Hendra Kusuma-detikcom)
Jakarta -

Belakangan ini harga jual vespa melonjak drastis. Harga jual si besi tua ini bisa-bisa lebih mahal dibandingkan mobil-mobil second atau bekas produksi Jepang. Vespa tua yang berhasil direstorasi harganya bisa sampai puluhan hingga ratusan juta.

Tingginya harga jual vespa dikarenakan faktor keunikan, volume terbatas atau tidak ada produksi baru. Perlu diingat, harga jual vespa yang mahal ini setelah menjalani berbagai macam proses seperti restorasi.

Seperti yang dilakukan oleh Rista, seorang pemilik vespa PTS. Dia menceritakan harga vespa bahan atau 'bangke jenis PTS yang bisa mencapai Rp 20 juta. Kondisi bahan di sini tentunya beragam yang intinya butuh restorasi agar bisa terlihat seperti baru lagi.

Rista mengatakan, proses restorasi saat ini juga terdapat dua pilihan yaitu standar original keluaran pabrik atau kelas racing. Menurut dia, kedua kelompok restorasi ini sama-sama membutuhkan biaya yang tinggi.

"Waktu saya restorasi PTS ini, saya mau racing agar lebih kencang, pas di total habisnya Rp 90 juta lebih," kata dia saat berbincang dengan detikcom, Kamis (3/12/2020).

Dia mengungkapkan, tingginya biaya restorasi yang dikeluarkan karena spare part yang digunakan kebetulan berasal dari merk-merk top seperti Malossi hingga Polini yang mau tidak mau juga harus diimpor dari luar.

Dengan biaya restorasi yang mencapai Rp 90 juta inipun membuat harga jual vespa PTS miliknya bisa dijual di atas harga tersebut atau lebih mahal dari harga mobil-mobil second produk Jepang khusus keluarga jenis low multi purpose vehicle (MPV).

Sementara Aji, salah satu penghobi dan pembeli vespa menilai harga jual vespa yang tinggi pun tercipta karena pasarnya memang ada. Menurut dia, para penghobi atau para kolektor rela membeli skuter tua ini dengan harga mahal asal kondisinya benar-benar lengkap.

"Banyak dari kalangan macam-macam, dari anak SMA sampai bapak-bapak, sampai kalangan pengusaha dan pecinta motor klasik," ujarnya.

Namun demikian, apakah booming vespa ini hanya berlaku sementara?

Pemerhati marketing, Yuswohady mengatakan tingginya harga vespa serta bisnis turunan lainnya seperti restorasi akan terus berlanjut ke tahun-tahun depan. Menurut dia, faktor yang membuat tren harga vespa tua tinggi karena identitas brand-nya sudah terbentuk sejak lama.

Selain itu, dikatakan Yuswohady, nilai emosional yang dijual dalam setiap jenis vespa menjadi salah satu kunci masyarakat rela membayar tinggi untuk satu unit vespa.

"Seperti Harley sudah hampir 100 tahun, artinya identitasnya kuat, begitu juga vespa akan lama," kata dia.

Selain vespa, Yuswohady mengungkapkan ada beberapa bisnis restorasi yang saat ini bisa meningkat, seperti restorasi motor dan mobil jadul lainnya, serta yang baru-baru ini adalah sepeda klasik tahun 90-an.

"Kecenderungannya brand yang memiliki ketidaksamaannya atau different yang kuat dan dia hanya menarget pasar emosional bukan fungsional. Bisa karena nuansa lama bisa juga bangun identitas, jadi membuat unik itu bisa balik ke hal lama tapi juga membentuk identitas baru, jadi sebenarnya ekslusifitas," katanya.

Menurut dia, vespa dengan segala keunikan serta nilai emosional yang tinggi berbeda dengan produk-produk kekinian yang lebih kepada pasar oriented dan mengutamakan fungsional seperti mudah digunakan, irit, teknologi tinggi.

"Makanya kalau vespa dan Harley formatnya produk unik, konsumen fanatik, medianya komunitas, karena ingin mendapat pengakuan kelompok yang eksklusif. Maka penggunaannya juga bukan untuk sehari-hari, tapi ritual komunitas," ungkapnya.

(hek/dna)