Apa Untungnya Jalur Sutra Baru Bagi Indonesia?

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 13 Des 2020 11:48 WIB
Suasana aktivitas bongkar muat di Jakarta International Container Terminal, Jakarta Utara, Rabu (5/9/2018). Aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap jalan di tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terpuruk. Begini suasananya.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menilai bahwa program Fifth and Belt Road Initiative akan memperkuat konektivitas perdagangan dunia. Hal ini dikatakan dalam Pertemuan Fifth Belt and Road Summit tengah pekan kemarin.

Menurutnya, koneksi perdagangan akan semakin memudahkan dan memperluas jangkauan pemasaran produk-produk Indonesia ke banyak negara dari Asia,Timur Tengah, Asia Selatan Eropa bahkan Afrika.

"Kerangka Belt and Road ini akan sangat bagus dampaknya jika kita bisa memanfaatkannya secara optimal. Dalam perspektif perdagangan, pembangunan infrastruktur akan mengurangi biaya logistik dan memperluas jangkauan pasar," tuturnya seperti dikutip Minggu (13/12/2020).

Belt and Road Initiative sendiri berupaya mewujudkan jalur sutra baru yang terbentang mulai dari Kepulauan Nusantara hingga Eropa. Dengan kerangka program ini diharapkan arus manusia, barang dan jasa antar negara bahkan antar benua bisa lebih intensif.

Untuk memanfaatkannya, Jerry mengutip Presiden Joko Widodo yaitu bahwa Indonesia harus memperkuat daya saing. Melihat potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dipunyai, Jerry sangat optimis Indonesia bisa meningkatkan peran dan manfaat di dunia perdagangan luar negeri.

"Kita terus memperkuat daya saing baik dalam perspektif human power, institusi maupun teknologi. Update dan upgrade semua aspek makin terus dilakukan dan kita berharap makin cepat. Ini kunci agar produk barang dan jasa Indonesia bisa optimal di jalur perdagangan belt and road," ucapnya.

Kementerian Perdagangan sendiri menurut Jerry melakukan banyak hal agar daya saing produk barang dan jasa Indonesia makin kompetitif. Program-program itu menurutnya, disusun dan dilaksanakan secara integratif dan bukan parsial. Tujuannya agar ada pembenahan di semua aspek.

"Kerangka institusional kita makin baik dan arah kita makin jelas. Sesuai arahan Presiden bahwa kita harus mampu bermain di sektor yang paling banyak nilai tambahnya. Jadi, bukan lagi bermain di level tradisional, tetapi di level yang lebih technology intensive dan sektor-sektor yang lebih kreatif," tambahnya.

Jokowi juga hadir dalam Fifth Belt and Road Summit kali ini. Kepala negara didaulat untuk memberikan sambutan. Presiden memberikan garis bawah pada tantangan-tantangan terkini antara lain pandemi COVID-19 dan tantangan untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemajuan. Oleh karena itu, menurutnya semua pihak dan semua negara harus bersinergi.

Belt and Road sendiri bisa disinergikan dengan program lain, misalnya Master Plan on ASEAN Connectivity (MPAC) 2025. Selain memperkuat sinergi, Presiden juga menekankan pada aspek sustainability. Oleh karena itu ada beberapa isu yang harus diselesaikan menurut Joko Widodo yaitu isu pembiayaan, lingkungan dan kualitas. Dalam proses itu, kepala negara ingin semua pihak harus dilibatkan dan prinsip kesetaraan.

Konektivitas, partisipasi dan kesetaraan yang disampaikan memang menjadi isu sentral dalam hubungan antar negara baik dalam aspek politik, sosial, ekonomi dan perdagangan. Indonesia melalui presiden selalu mengangkat isu-isu tersebut berkaitan dengan perubahan konteks kekuatan ekonomi dan politik dunia dan efek pandemi yang mengarahkan pada deglobalisasi.

Visi dan semangat yang diusung Presiden itu, menurut Jerry diterjemahkan dalam semua program kerja Kemendag. Dalam program BRI, menurut Wamendag sinergi harus dilakukan baik secara internal maupun dengan stakeholder di negara lain. Sama dengan Jokowi, Jerry melihat tahun 2021 dan setelahnya akan menjadi tahun-tahun peluang bagi pelaku ekonomi dan perdagangan Indonesia.

(das/zlf)