Kasus COVID-19 Mereda, Australia Mau Setop Kebijakan WFH

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 14 Des 2020 13:59 WIB
Caucasian girl working on computer laptop


***These are our own 3D generic designs. They do not infringe on any copyrighted designs.***
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Rawpixel
Jakarta -

Praktik kerja dari rumah alias work from home (WFH) akan segera berakhir di Australia. Tepatnya, pada negara bagian New South Wales (NSW), yang merupakan rumah dari ibu kota Australia, Sydney.

Dilansir dari Reuters, Senin (14/12/2020), otoritas setempat memutuskan kebijakan WFH berakhir hari Senin ini. Keputusan itu diambil dengan pertimbangan angka penyebaran COVID-19 yang sudah sangat rendah.

Tapi, banyak perusahaan di sana akan berencana untuk mempertahankan pengaturan kerja yang fleksibel ini. Setidaknya WFH akan dilanjutkan hingga tahun 2021.

Otoritas NSW sendiri sudah mengatakan pihaknya berencana untuk mencabut tatanan protokol kesehatan ketat bagi masyarakat yang telah diberlakukan hampir sepanjang tahun. Hal itu karena laporan tidak ada infeksi virus Corona lokal baru hingga tanggal 10.

Namun, banyak perusahaan tidak memiliki rencana untuk segera mengubah pengaturan kerja dari rumah. WFH pun kebanyakan akan tetap dilakukan pada 10 hari dari awal periode liburan Natal.

Di sisi lain, dewan properti mengatakan tingkat hunian di kawasan pusat bisnis Sydney saat ini okupansinya 45%, dibandingkan dengan lebih dari 90% sebelum pandemi. Dua pertiga dari anggota dewan properti mengharapkan peningkatan dalam hunian CBD setelah tiga bulan atau lebih.

Sementara itu, di Just Victoria, negara bagian terpadat kedua di negeri kangguru, saat ini memiliki batasan pada pekerja kantoran. Kantor hanya boleh diisi sebanyak 25%.

Lalu, pada sebagian besar negara bagian dan teritori lain pun memiliki arahan umum bagi perusahaan untuk mengizinkan pekerja masuk dari rumah jika mereka mau.

NSW mengatakan pihaknya masih mendorong perusahaan untuk mengatur jam kerja, dan menyarankan staf untuk mengenakan masker saat berada di transportasi umum.

Commonwealth Bank of Australia, salah satu perusahaan terbesar di negara itu, yang berkantor pusat di Sydney, mengatakan akan mulai kembali ke tempat kerja. Tetapi dengan jumlah karyawan yang sedikit.

"Kami akan bekerja dengan orang-orang kami dengan pendekatan yang berhasil untuk pelanggan kami, untuk tim dan untuk individu," kata Commonwealth Bank of Australia.

Australia sendiri telah melaporkan lebih dari 28.000 kasus COVID-19 dan 908 kematian sejak pandemi dimulai. Tetapi diperkirakan ada 56 kasus aktif yang tersisa, sebagian besar pelancong yang kembali dari luar negeri pun sudah dikarantina di hotel.

(eds/eds)