Strategi Lembaga Pendidikan Bertahan di Tengah Gempuran Corona

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 15 Des 2020 11:06 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Seiring dengan suksesnya peluncuran SIS Myanmar pada September 2020 dan menyusul ASIS Chennai , SIS Group of Schools terus meningkatkan prestasinya di tingkat regional meski industri pendidikan global sedang menghadapi tantangan terbesarnya dalam 100 tahun terakhir.

SIS Group of Schools akan terus mengembangkan eksistensinya di Indonesia, serta memperluas jangkauan sekolahnya dari Jakarta ke bagian lain pulau Jawa dan Sumatra. Jumlah sekolah yang dijadwalkan dibuka di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan juga semakin banyak, bahkan menjangkau pulau-pulau terjauh seperti Sulawesi dan Kalimantan.

SIS Group of Schools bermitra dengan International Finance Corporation (World Bank) untuk menyuguhkan pendidikan yang berkualitas kepada masyarakat dengan berbagai tingkat pendapatan di negara berkembang.

Meski banyak sekolah mengalami penurunan jumlah pendaftar di tengah pandemi global, jumlah total sekolah dan peserta didik di SIS Group justru meningkat. Hal ini erat kaitannya
dengan kesigapan SIS Group dalam memindahkan pembelajaran ke media digital, model Pembelajaran Jarak Jauh yang disetujui orang tua, serta perhatian SIS Group kepada staf pengajarnya.

Sigap Berpindah ke Media Digital

Dengan inovasi sebagai nilai utamanya, admin dan staf pengajar SIS telah menggunakan Zoom dan Google selama beberapa tahun sebelum pandemi COVID-19 memaksa pemerintah untuk menutup sekolah-sekolah.

Awal mulanya, mereka melakukan survei dan wawancara kepada para orang tua dan peserta didik untuk mendiskusikan potensi tantangan teknologi. Hal ini dilakukan beriringan dengan beberapa rapat rutin mengenai rencana penanggulangan pandemi yang semua dilakukan melalui Zoom.

Dengan memakai panduan dari WHO dan CDC, pimpinan SIS Group menyusun 7 Poin Rencana Tanggap COVID-19 sebagai antisipasi penutupan sekolah-sekolah oleh pemerintah sebelum penutupan itu benar-benar terjadi. Artinya, ketika sekolah-sekolah ditutup oleh pemerintah pada Maret 2020, staf pengajar SIS, peserta didik, dan juga orang tua sudah dipersiapkan semaksimal mungkin untuk model Pembelajaran Jarak Jauh.

Walaupun demikian, SIS Group selalu terus meningkatkan model Pembelajaran Jarak Jauh yang sudah ada.

"Tidak diragukan lagi bahwa penggunaan teknologi dalam penyampaian pedagogi akan tetap ada meskipun kita telah keluar dari pandemi," ungkap Alvin Hew, Board Director SIS Group yang juga merupakan Managing Director SIS Group.

"Itulah mengapa sekarang kami aktif mempelajari penggunaan virtual reality sebagai salah satu cara bagi kami dalam mengajar dan melakukan berbagai hal di SIS," tutur dia.

93% Orang Tua Menyetujui Pembelajaran Jarak Jauh

Satu elemen penting kesuksesan model Pembelajaran Jarak Jauh oleh SIS adalah kemampuan mendengarkan para orang tua.

"Kami memulainya dengan menggelar survei kepada para orang tua. Hal ini kami lakukan untuk mencari berbagai potensi hambatan sebelum sekolah-sekolah ditutup. Dengan begitu kami bisa lebih bersiap diri daripada sekolah-sekolah lain yang belum melakukan persiapan. Kami menemukan berbagai potensi tantangan yang dihadapi orang tua dan peserta didik ketika belajar daring dari rumah, lalu ketika sekolah ditutup, kami sudah punya langkah antisipasi terhadap tantangan tersebut," tutur Andrew Paterson, Direktur SIS Bona Vista & SIS Kelapa Gading Jakarta.

Survei orang tua yang digelar SIS Group menunjukkan bahwa 93% orang tua merasa "puas" hingga "sangat puas", serta mendapati bahwa model Pembelajaran Jarak Jauh " terorganisir
dengan baik dan mudah diikuti".

Perhatian ke Staf Pengajar

SIS Group of Schools mempekerjakan ratusan staf pengajar asing dengan berbagai keahlian. Banyak dari mereka yang masih single dan tinggal sendirian. Sedari awal, pimpinan SIS sadar betul bahwa isolasi dan jauh dari rumah adalah ancaman bagi kesehatan mental mereka.

Guna mengatasi hal tersebut, SIS Group memberikan mereka akses gratis kepada tenaga konseling profesional, langganan streaming film, serta sesi pertemuan rutin non-formal secara daring. Ini semua untuk menjaga kesejahteraan mereka.

"Staf pengajar adalah rahasia dari sekolah yang hebat," Ungkap Hew.

"Maka penting bagi kami untuk melakukan upaya ekstra guna memberi perhatian kepada pihak yang sangat penting dari komunitas kami ini," tandas dia.

(dna/dna)