Cathay Pacific Diramal Rugi Rp 33 Triliun Tahun Ini

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 16 Des 2020 23:44 WIB
Ulangi kesalahan, Cathay Pacific jual tiket klas utama Rp 231 menjadi Rp 21 juta
Foto: BBC Magazine
Jakarta -

Cathay Pacific Ltd diproyeksi menelan kerugian sebesar US$ 2,36 miliar atau sekitar Rp 33,43 triliun (kurs Rp 14.100) selama 2020. Proyeksi itu dirilis Refinitiv berdasarkan survei atas 13 analis terhadap laporan keuangan Cathay Pacific di akhir tahun 2020 mendatang.

Dilansir dari Reuters, Rabu (16/12/2020), maskapai asal Hong Kong itu telah mencatatkan kerugian sebesar US$ 1,2 miliar atau setara Rp 18,4 triliun pada semester I-2020.

Jika proyeksi kerugian akhir tahun terjadi, maka Cathay Pacific akan kembali mencetak rekor dari kerugian paling tinggi sejak tahun 2008 sebesar US$ 1,1 miliar karena krisis keuangan global.

Perusahaan sendiri memperkirakan kerugian di semester II-2020 akan jauh lebih tinggi dari semester I-2020. Pasalnya, perusahaan tak hanya menderita dari permintaan yang rendah, tapi juga masih harus menanggung biaya restrukturisasi, dan kerugian dari berkurangnya armada pesawat.

"Kami masih belum melihat adanya peningkatan yang signifikan dari jumlah penumpang kami," kata Chief Customer and Commercial Officer Cathay Pacific Ronald Lam dalam sebuah pernyataan resminya.

Meski sudah memasuki akhir 2020, Cathay Pacific masih mencatat penurunan jumlah penumpang hingga 98,6% di bulan November. Kemudian, penurunan pada layanan kargo mencapai 26,2%.

"Mengingat pemulihan yang masih berjalan lambat, kami memperkirakan hanya akan mengoperasikan sekitar 9% dari kapasitas sebelum COVID-19 untuk penerbangan bulan Desember, dan sedikit di atas 10% untuk Januari 2021," kata Lam.

Pada Oktober lalu, perusahaan mengumumkan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) 5.900 pegawai demi menutup kerugian akibat pandemi. Dari angka itu, hampir semua pegawai di anak usaha Cathay Dragon yang hanya melayani penerbangan domestik pun kena PHK.

Perusahaan berupaya memulihkan keadaan dengan melakukan restrukturisasi yang menelan biaya sekitar US$ 238 juta atau sekitar Rp 4 triliun. Dana itu diperoleh dengan memotong secara permanen gaji dari pilot dan pramugari kontrak yang tersisa.

Pemerintah Hong Kong sendiri sudah berupaya menyelamatkan Cathay Pacific dari kerugian yang lebih dalam dengan memberikan bantuan dana sebesar US$ 644 juta atau sekitar Rp 9,12 triliun.

(hns/hns)