Boeing Rekrut 160 Pilot untuk Terbangkan 737 Max, Gajinya Rp 2,8 Miliar

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 17 Des 2020 13:25 WIB
A Boeing 737 MAX jet heads to a landing at Boeing Field following a test flight Monday, June 29, 2020, in Seattle. The jet took off from Boeing Field earlier in the day, the start of three days of re-certification test flights that mark a step toward returning the aircraft to passenger service. The Federal Aviation Administration test flights over the next three days will evaluate Boeings proposed changes to the automated flight control system on the MAX, a system that activated erroneously on two flights that crashed, killing 346 people. (AP Photo/Elaine Thompson)
Foto: AP Photo/Elaine Thompson
Jakarta -

Boeing akan menerbangkan kembali unit 737 MAX setelah dua tahun lebih dikandangkan akibat kecelakaan fatal. Untuk itu, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) tersebut merekrut 160 pilot untuk ditempatkan di maskapai penerbangan yang menggunakan kembali 737 MAX.

Dilansir Reuters, Kamis (17/12/2020), perekrutan itu tercantum dalam dokumen Global Engagement Pilot. Dengan program itu, pilot yang direkrut akan bertugas sebagai instruktur atau pengamat kokpit. Boeing menawarkan upah kepada para pilot mencapai US$ 200.000 atau sekitar Rp 2,82 miliar per tahun (kurs Rp 14.135). Biaya perekrutan itu berpotensi mencapai US$ 32 juta atau sekitar Rp 452 miliar.

Pilot-pilot yang direkrut harus memiliki pengalaman minimal 1.000 jam kerja sebagai instruktur, dan dalam portofolionya diwajibkan tak ada insiden, kecelakaan, atau pelanggaran lainnya. Para pilot juga diwajibkan memiliki lisensi menerbangkan unit 737 dan pesawat Boeing lainnya.

Secara keseluruhan, proses perekrutan ini tidaklah biasa. Namun, Boeing melakukan ini untuk mendukung peluncuran ulang 737 MAX yang sudah dirancang ulang, setelah sebelumnya mencatat gangguan operasional. Upaya ini dilakukan untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat global setelah 737 MAX mencatat kecelakaan tragis di Indonesia dan Ethiopia yang menewaskan 346 orang.

Dengan program ini, Boeing juga memastikan pengawasan 24 jam/7 hari terhadap penerbangan global 737 MAX.

Boeing juga berencana melatih pramugari yang akan bertugas di unit 737 MAX untuk membangun kepercayaan penumpang yang tentunya khawatir ketika akan terbang dengan unit tersebut.

Para pramugari itu akan ditugaskan melakukan konsultasi, melayani penumpang, dan meyakinkannya untuk terbang dengan 737 MAX.

"Kami terus bekerja sama dengan regulator global dan pelanggan untuk mengembalikan 737-8 dan 737-9 ke layanan di seluruh dunia dengan aman," kata juru bicara Boeing.

Federal Aviation Administration (FAA) atau Administrasi Penerbangan Federal AS, dan juga Boeing menyatakan, unit 737 MAX yang telah diperbaiki dan di-upgrade ini merupakan pesawat teraman di dunia untuk saat ini. Pasalnya, unit yang diluncurkan kembali ini telah mendapatkan peningkatan perangkat lunak kokpit dan pelatihan pilot.

Untuk meraih izin 737 MAX 'lepas dari kandang' itu, Boeing harus merogoh kocek hingga US$ 20 miliar atau sekitar Rp 282 triliun.

Selain itu, Boeing juga telah menganggarkan dana US$ 1 miliar atau sekitar Rp 1,41 triliun termasuk untuk perekrutan pilot, pelatihan, dan pengembangan kokpit untuk pilot generasi berikutnya.

(zlf/zlf)