Dua Perusahaan Ganja Ini Mau Merger, Valuasinya Rp 53 T

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 17 Des 2020 13:35 WIB
KASESE, UGANDA - NOVEMBER 10: A factory worker processes Cannabis flowers to make them ready for export on November 10, 2020 in Kasese, Uganda. Uganda is one of several African countries looking to produce medical cannabis for export to Europe and America. Since 2017, five countries on the continent have legalized the farming of cannabis for medicinal or industrial use. Rwanda earlier this month passed laws allowing production, and Uganda has already started exporting to markets in Israel. Farms in Lesotho (the first nation in Africa to issue licenses to produce medicinal cannabis) quickly attracted multimillion-dollar investments from Canada. Industrial Hemp, the only Ugandan cannabis company currently exporting, grows its crop in high-tech greenhouses in partnership with Together Pharma, an Israeli firm. In April they exported 250kg of medicinal cannabis - the first commercial batch to leave Uganda since the government approved export in January. Considering this successful export, the company is setting its sights on exporting to Europe and Canada. Scores of Ugandan companies have applied for licenses. (Photo by Luke Dray/Getty Images)
Foto: Getty Images/Luke Dray
Jakarta -

Dua perusahaan ganja asal Kanada, Tilray Inc dan Aphria Inc mengumumkan rencana penggabungan usaha atau merger. Industri berharap ada keterbukaan investasi (liberalisasi) di Amerika Serikat (AS) saat kepemimpinan presiden terpilih Joe Biden.

Tilray dan Aphria mengumumkan kesepakatan semua saham yang memberi entitas baru nilai pasar saham 2,8 miliar poundsterling atau setara Rp 53,2 triliun (kurs Rp 19.000/£), dengan pendapatan gabungan kedua perusahaan selama 12 bulan terakhir sebesar 507 juta poundsterling.

"Legalisasi ganja untuk pengobatan dan kesenangan telah melahirkan industri yang tumbuh cepat dan tepat di depan pintu pasar AS yang berpotensi menguntungkan," bunyi keterangan tersebut dikutip dari The Guardian, Kamis (17/12/2020).

Informasi terkait Tilray dan Aphria yang merger pertama kali diketahui dari akun Twitter @BettingBruiser. Keduanya disebut bisa menghemat biaya tahunan sebesar 58 juta poundsterling atau Rp 1,102 triliun dalam setahun.

Berbagai negara bagian AS telah melegalkan ganja, memicu kesepakatan komersial yang melibatkan banyak selebriti seperti rapper Snoop Dogg dan pengusaha Martha Stewart.

Tetapi ganja tetap ilegal di bawah hukum federal, menghalangi pengaturan perbankan dan pergerakan lintas batas yang telah mencegah perusahaan Kanada mengakses pasar potensial yang luas di selatan perbatasan.

Banyak dari perusahaan tersebut telah berjuang untuk mendapatkan keuntungan dan telah melihat harga saham mereka berfluktuasi di tengah sentimen yang tidak stabil tentang keberhasilan dan keberlanjutan sektor.

Tetapi, terpilihnya Biden dianggap sebagai harapan beberapa investor bahwa perubahan kebijakan yang menguntungkan bisa segera terjadi, sehingga memicu reli saham.

(fdl/fdl)