Jadi Petani di Perbatasan, Milenial Ini Raup Omzet Rp 40 Juta/Bulan!

Inkana Putri - detikFinance
Sabtu, 19 Des 2020 11:32 WIB
petani perbatasan
Foto: Inkana Putri
Malaka -

Generasi milenial masa kini mungkin lebih banyak yang ingin bekerja di perusahaan startup. Kantor yang modern, outfit casual, hingga gaji yang menggiurkan menjadi beberapa alasan startup menjadi kantor impian milenial.

Berbeda dengan milenial lainnya, Anonsiatus Marianus Riwu (23), milenial asal Malaka ini memutuskan untuk bergelut menjadi petani. Sebelumnya, Anonsiatus sempat berkuliah di Kupang selama tiga semester. Namun karena keterbatasan dana, akhirnya ia terpaksa harus berhenti dan memutuskan untuk bertani bersama ayahnya.

Di tengah pandemi, dampak ekonomi pun menghantam keluarga Anonsiatus hingga menyebabkan kakaknya menganggur. Sejak saat itulah ia dan keluarga memutuskan untuk mulai mengembangkan lahan pertanian menjadi pertanian hortikultura, yang diberi nama Frontera Garden.

"Kita mulainya juga karena pandemi. Ada kakak yang berhenti kerja, nganggur dari pekerjaannya, kita ngumpul di rumah tidak buat apa-apa. Akhirnya kita berunding dan kita putuskan buat bikin kebun ini," ujarnya kepada detikcom baru-baru ini.

Soal Frontera Garden, Anonsiatus menyebut nama tersebut memiliki arti kebun perbatasan. Di kebun ini, ia menanam berbagai komoditas mulai dari tomat, cabai, melon, hingga pare.

Sebelum mulai membuat Frontera Garden, ia dan ayahnya sempat bertani jagung dan singkong. Namun, mereka mengalami kesulitan dalam pemasarannya. Ditambah kedua komoditas tersebut memakan waktu panen yang lama.

"Awalnya bapak cuma tanam jagung sama singkong. Tapi jagung kan tanamnya cuma musim penghujan, jadi panennya sekali. Apalagi singkong kalau ditanam sekarang berarti 1-1,5 tahun lagi baru bisa panen. Karena jangka waktu panen itu kita bingung singkong dari kebun sebesar ini mau dijual ke mana," katanya.

Di tengah himpitan pandemi, ia mendapat motivasi dari perusahaan penyedia benih yang meyakinkan bahwa usaha pertanian juga berdampak bagi perekonomian. Bukan hanya itu, perusahaan tersebut juga membantu dalam pemasaran sehingga ia tak perlu lagi bingung untuk menjual hasil pertaniannya.

"Ini menelan biaya sekitar Rp 30 juta, akhirnya kita berunding bertujuh. Jadi kita mau patungan Rp 5 juta per orang, tapi banyak yang tidak setuju karena kebanyakan. Akhirnya kita putuskan Rp 2,5 juta dan dibantu sama perusahaan penyedia benih," katanya.

Awal mula bertani holtikultura, Anonsiatus bercerita dirinya hampir sempat gagal panen. Pasalnya, bertani di Malaka disebut sebagai 'kerja gila' karena sumber mata air yang sulit. Untuk menyiram lahannya, ia perlu mengangkut air dengan tangki, yang tentunya merogoh kocek.

Di saat itulah ia akhirnya memutuskan untuk melakukan pinjaman KUR Super Mikro sebesar Rp 10 juta di BRI Unit Kobalima. Mengingat saat itu usaha pertaniannya sangat membutuhkan dana. Ia mengatakan jika tak ada bantuan BRI, mungkin saat ini usaha pertaniannya sudah gagal.

"Waktu bulan September itu tomatnya sudah tumbuh, kita kan siramnya pakai tangki karena nggak ada mata air. Tangki kan operasionalnya butuh solar, motor butuh bensin. Kita pas butuh dana waktu itu kita dibantu teman-teman BRI, hari ini survei dan sorenya cair. Seandainya waktu itu BRI memperlambat pencairan, itu kemungkinan bisa batal panen," ungkapnya.

petani perbatasanpetani perbatasan Foto: Inkana Putri

Kini, Anonsiatus sudah berhasil untuk memanen tomat hingga panen keempat, bahkan dirinya sudah bisa balik modal. Sejak panen tomat pertama pada 12 November hingga panen keempat di 2 Desember 2020, dirinya sudah mendapatkan Rp 40 juta. Namun, angka tersebut sebenarnya masih jauh dari target yang ingin dicapai.

"Sebenarnya untuk tomatnya sendiri ditargetkan Rp 150 juta, tapi itu kalau airnya lancar. Karena airnya nggak lancar, jadi produksinya menurun. Harusnya panen keempat ini sudah Rp 80 jutaan, tapi ya kita harus tetap semangat," katanya.

Dalam waktu dekat, ia mengatakan akan mulai panen cabai dan pare. Ke depan, ia juga berencana akan meminjam KUR dengan jumlah yang lebih banyak untuk usaha pertaniannya. Dengan begitu, hasil panen yang didapat bisa lebih maksimal dan mencapai target.

Tak sampai di situ, Anonsiatus pun ingin mengembangkan komoditas lainnya. Rencananya, tahun depan dirinya akan mencoba untuk menanam bawang dan buncis di kebunnya.

Soal keberhasilannya menjadi petani milenial, Anonsiatus mengatakan dirinya terbuka untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Ia juga berpesan agar teman-teman milenial tak usah malu menjadi petani, mengingat bertani bisa menunjang masa depan.

"Kita membuka diri dan silakan datang ke Frontera Garden untuk sama-sama belajar. Karena kita basic-nya masih belajar semua ini. Selama itu kerjaan yang halal, jangan malu jadi petani. Jangan hanya mau kerja di kantor aja, jadi petani hasilnya juga menjanjikan," pungkasnya.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan.
Ikuti terus jelajah Tapal Batas detikcom bersama BRI di tapalbatas.detik.com!



Simak Video "Buka Seminggu Sekali, Pedagang Sembako Untung Rp 3 Juta Sehari"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)