Sri Mulyani Klarifikasi soal Transaksi Surat Berharga Kena Bea Meterai

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 21 Des 2020 16:57 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Sri Mulyani membahas kondisi ekonomi di tahun 2020.
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Para pelaku investasi belakangan tengah dihebohkan terkait kebijakan baru mengenai bea meterai untuk transaksi surat berharga. Informasi yang beredar pengenaan bea meterai ditetapkan sebesar Rp 10.000.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai saat ini banyak yang salah paham terkait kebijakan itu. Dia menjelaskan kebijakan yang merupakan buntut dari Undang-undang Nomor 10 Tahun 2020 tentang Bea Meterai adalah pengenaan bea meterai untuk dokumen elektronik.

"Dan ini tujuannya adalah supaya ada kesetaraan terhadap dokumen elektronik maupun konvensional, semuanya sama perlakukan di dalam pengenaan bea meterai," terangnya dalam konferensi pers virtual, Senin (21/12/2020).

Sri Mulyani juga menegaskan bahwa pengenaan bea meterai nantinya hanya dikenakan kepada dokumen, sehingga pengenaan bea meterai ditetapkan terhadap setiap trade confirmation (TC) bukan untuk setiap transaksi. Menurutnya hal itu banyak salah ditangkap terutama untuk investasi saham.

"Karena yang muncul hari ini terutama terkait saham, seolah-olah setiap transaksi saham akan dikenakan bea meterai. Padahal itu bukan pajak dari transaksi tapi pajak atas dokumennya. Nah di dalam bursa saham bea meterai ini dikenakan atas TC, atau konfirmasi perdagangan yang merupakan dokumen elektronik yang diterbitkan secara periodik yaitu harian atas keseluruhan transaksi jual beli di dalam periode tersebut," terangnya.

Sri Mulyani juga menegaskan pengenaan bea meterai terhadap dokumen transaksi surat berharga itu akan mempertimbangkan batas kewajaran nilai, sehingga tidak akan menekan minat generasi milenial yang saat ini tengah bergairah untuk belajar investasi.

"Karena banyak sekarang ini sudah bereaksi seolah-olah, terutama para milenial yang sedang belajar investasi saham. Saya senang generasi milenial sangat sadar terhadap investasi. Kita senang mereka melakukan investasi saham maupun surat berharga ritel yang diterbitkan pemerintah selama ini. Jadi kita tidak berkeinginan menghilangkan minat maupun tumbuhnya para investor terutama generasi baru," tegasnya.

Dia menjamin pemerintah akan mempertimbangkan batas kewajaran dalam pengenaan bea meterai terhadap dokumen TC itu. Sri Mulyani pun berharap masyarakat tidak perlu bereaksi berlebih atas kebijakan baru tersebut.

(das/ara)