PLBN Badau Sunyi di Masa Pandemi, Aktivitas Ekonomi Terhenti

Yudistira Imandiar - detikFinance
Jumat, 25 Des 2020 18:45 WIB
Beginilah potret megahnya PLBN Nanga Badau, Kalimantan Barat yang pada 2017 lalu diresmikan Presiden Jokowi sebagai wajah terdepan di batas Indonesia-Malaysia.
Foto: Rachman Haryanto
Badau -

Beberapa waktu lalu detikcom menyambangi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau di Kecamatan Nanga Badau, Kalimantan Barat. Suasana PLBN Badau di pertengahan bulan Desember 2020 terbilang sepi, karena gerbang perbatasan tengah ditutup.

Usai menempuh tiga jam perjalanan dari Putussibau, Ibu Kota Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, tim detikcom akhirnya sampai di Badau. Di hari Sabtu pagi, tidak nampak hiruk pikuk di wilayah tersebut, hanya beberapa mobil berseliweran di jalan raya dan segelintir orang tengah berkegiatan di teras rumah, toko, atau warung makan.

10 menit melintas dengan mobil dari gerbang masuk Kecamatan Nanga Badau, tim detikcom bertemu dengan papan arah yang menunjukkan ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau. Mobil yang ditumpangi tim detikcom melaju menyusuri jalanan besar beraspal mulus menuju PLBN. Sejauh pandangan diedarkan, tak terlihat ada keramaian kendaraan atau lalu lalang masyarakat menjelang gerbang PLBN.

Begitu sampai di area PLBN, tim detikcom disambut beberapa orang petugas yang menanyakan keperluan kami. Setelah mendapatkan jawaban, mereka lantas mempersilahkan kami masuk menuju gedung utama berkelir putih gading.

Sunyi! Begitu kata yang tepat untuk menggambarkan situasi di PLBN Badau saat kami berkunjung ke sana, pertengahan Desember 2020. Hanya petugas wanita di depan pintu masuk gedung utama yang menanggapi kedatangan tim detikcom.

Dengan ramahnya, petugas wanita itu mempersilahkan tim detikcom melakukan tour singkat di area gedung sampai ke halaman belakang, tempat patung 'Garuda Indonesia' dan landmark 'Badau Indonesia' berdiri. Dari tempat itu, terlihat gerbang keluar-masuk Indonesia-Malaysia dan sebaliknya.

Di pelataran PLBN, tidak nampak wara-wiri pelancong maupun kendaraan niaga dari Indonesia menuju Malaysia atau sebaliknya. Hanya ada petugas keamanan dan tukang kebun yang tengah membereskan tumbuhan di taman kecil. Ada juga sejumlah orang yang tengah menggarap proyek renovasi ringan di gedung dan pelataran PLBN Badau.

PLBN Nanga BadauPLBN Nanga Badau Foto: Edi Muhammad Yamin/d'Traveler

PLBN Badau di masa pandemi COVID-19 tak ubahnya sebuah rumah yang ditinggal pergi penghuninya untuk sementara. Penutupan akses masuk dan keluar antara kedua negara membuat PLBN tak lagi kedatangan warga Indonesia maupun Malaysia yang bepergian ke negara tetangga untuk sekadar jalan-jalan atau melakoni keperluan niaga.

Lalu lalang truk-truk pengekspor kelapa sawit (CPO) yang biasanya meramaikan jalur kendaraan niaga praktis tak terlihat ketika Malaysia dan Indonesia sama-sama menutup wilayahnya.

"Yang jadi permasalahan sekarang kan kalau kemarin kita ekspor CPO sekarang terhenti, itu yang jadi kendala di situ. Kita berharap 2021 kembali normal," kata Kepala PLBN Badau Agato Litmat saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Disampaikan Agato, sempat ada wacana perbatasan Malaysia dan Indonesia dibuka mulai 1 Januari 2021. Namun, mengingat perkembangan kasus COVID-19 di kedua negara yang masih belum aman, maka pembukaan PLBN masih menunggu waktu lagi.

Beginilah potret megahnya PLBN Nanga Badau, Kalimantan Barat yang pada 2017 lalu diresmikan Presiden Jokowi sebagai wajah terdepan di batas Indonesia-Malaysia.Beginilah potret megahnya PLBN Nanga Badau, Kalimantan Barat yang pada 2017 lalu diresmikan Presiden Jokowi sebagai wajah terdepan di batas Indonesia-Malaysia. Foto: Rachman Haryanto

Penutupan gerbang perbatasan tak hanya menimbulkan kesunyian di area PLBN, masyarakat Badau juga merasakan dampak secara ekonomi. Zaldi Salahuddin (42) yang sehari-hari berjualan sayuran di Pasar Badau mengaku sejak PLBN ditutup ia tidak bisa mengambil barang dagangan dari Malaysia.

Sebagai penduduk daerah perbatasan, Zaldi memiliki Kartu Identitas Lintas Batas (KILB). Oleh sebab itu, dia dapat berbelanja barang dagangan dari Malaysia tanpa dikenakan bea masuk, dengan jumlah maksimal barang yang dibawa bernilai tak lebih dari 600 Ringgit Malaysia.

Diungkapkan Zaldi, semenjak pandemi ia mengambil barang dari Pontianak atau Sintang. Masalahnya, ongkos logistik untuk mengambil barang di dua kota tersebut terbilang lebih mahal ketimbang belanja dari Malaysia.

"Ambil barang dari Pontianak itu bisa memakan waktu sampai satu hari perjalanan. Tapi, kalau di Malaysia cukup 15 menit sudah sampai. Maka biaya logistik jadi lebih mahal," ungkap Zaldi.

Hal senada diungkapkan Sumiwati (38). Pengrajin Sugu Tinggi, riasan kepala khas Suku Iban, bercerita ihwal bisnisnya yang tersendat karena penutupan gerbang PLBN Badau.

Dikatakan Sumiwati, pemesan Sugu Tinggi kebanyakan pedangan Malaysia. Ia biasa mengirim barang kepada pemesan melalui jalur PLBN. Terkadang, pembeli dari Malaysia yang menjemput pesanannya langsung ke rumah Sumiyati. Namun, hal itu tidak lagi dapat dilakukan semenjak pandemi COVID-19.

Untuk menutupi biaya hidup dan kebutuhan lain, Sumiwati dan suami membuka usaha warung kecil-kecilan. KUR BRI menjadi andalan Sumiwati untuk membuka usaha tersebut, agar bisa bertahan di saat hasil kerajinannya tidak bisa dikirim.

"Modal (dari KUR) itu diputar untuk buat usaha lain lah. Bagaimana caranya biar ada pemasukan, bisa bayar kredit. Kalau cuma ini aja (kerajinan) sekarang nggak nutup," ujar Sumiwati.

Di ulang tahun yang ke-125 pada tahun ini, BRI hadir di perbatasan dengan tema BRILian memudahkan masyarakat melakukan transaksi perbankan, termasuk bagi masyarakat Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. BRI juga menghadirkan KUR hingga menyalurkan BPUM untuk membantu UMKM sekitar.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan khususnya di masa pandemi. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus beritanya di tapalbatas.detik.com.



Simak Video "Seluk-beluk Nanga Badau, Wajah Elok Terdepan Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)