WNA Dilarang Masuk RI, Bandara Terancam Sepi?

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 16:52 WIB
PT Angkasa Pura I memprediksi kenaikan jumlah penumpang pada liburan Nataru 2021 sebesar 25 persen. Atau berkisar 10 ribu orang penumpang setiap harinya.
Foto: PIUS ERLANGGA
Jakarta -

Pemerintah Indonesia melarang masuk warga negara asing (WNA) ke Indonesia untuk mencegah penularan varian baru virus COVID-19. Kebijakan tersebut berlaku mulai 1-14 Januari 2021 mendatang. Lalu, apa dampaknya buat pergerakan penumpang di seluruh bandara Indonesia? Apakah bakal sepi lagi seperti awal-awal munculnya pandemu COVID-19?

Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi tak menampik bahwa penerapan kebijakan itu tentu bakal berdampak signifikan pada pergerakan penumpang di 15 bandara AP I.

"Kita proyeksikan memang tidak sebagus yang kita bayangkan. Apalagi berita terakhir ini kan ada varian virus baru yang akhirnya membuat pemerintah menutup secara total kunjungan orang asing ke Indonesia di awal tahun 2021 ini. Tentu saja ini akan terdampak sangat signifikan," ujar Faik dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (30/12/2020).

Namun, Faik optimis secara keseluruhan traffic penumpang sepanjang 2021 nanti akan mengalami peningkatan dibanding tahun 2020 ini. Meskipun, tidak akan mencapai rata-rata sebelum adanya pandemi COVID-19.

"Traffic di AP I di 15 bandara ini kan sekitar 230 ribu per hari kalau kondisi normal. Kondisi saat ini kan baru di level sekitar 97 ribu rata-rata per hari. Nah saya sudah berhitung kita bisa mencapai break event itu mungkin di level minimum sekitar 130 ribu - 135 ribu per hari penumpang. Jadi saya harapkan nanti kalau kondisinya terus membaik saya kira ini jadi satu peluang paling tidak membuat kita break event," tuturnya.

Alasannya, traffic penumpang selama ini memang masih didominasi oleh penumpang domestik. Pergerakan penumpang domestiklah yang paling menentukan nasib bandara-bandara Indonesia sepanjang 2021 nanti.

"Ada faktor yang menguntungkan kita di Indonesia karena faktor domestik, saya belajar dari pengalaman di China, di China mainland ya, kondisi traffic domestic-nya sangat kuat walaupun internasionalnya terganggu tapi karena faktor domestik sehingga penerbangan di China itu hampir mendekati kondisi normal," paparnya.

"Nah ini kondisi yang saya kira mirip dengan Indonesia karena faktor domestiknya kuat tentu diharapkan kita bisa lebih bertumbuh untuk penerbangan domestik. Jadi sementara kita lupakan dulu internasional karena memang situasi yang dihadapi," sambungnya.

(fdl/fdl)