Buka-bukaan Pelabuhan Tanjung Priok soal Arus Barang Sepanjang Pandemi

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 01 Jan 2021 22:00 WIB
PT Pelabuhan Indonesia II/IPC melakukan langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas logistik melalui digitalisasi. Salah satunya menghadirkan platform marine operating system (MOS).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Wabah COVID-19 yang secara resmi dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) pada 12 Maret 2020, telah memberikan dampak besar terhadap seluruh kegiatan usaha di dunia, termasuk dunia usaha kepelabuhanan. Penurunan trafik logistik karena berbagai kegiatan operasional pelabuhan tersibuk dan terpenting di dunia dibatasi.

Di Indonesia juga sama, pandemi COVID-19 telah menghantam pelabuhan di Indonesia karena adanya pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala besar di beberapa daerah secara pasti membawa dampak terhadap kegiatan operasional pelabuhan. PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Multipurpose) menjadi salah satu operator terminal pelabuhan di wilayah PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang terkena dampak pandemi COVID -19.

PTP Multipurpose merupakan salah satu anak perusahaan BUMN PT Pelabuhan Indonesia II (Persero), yang bergerak pada industri jasa kepelabuhanan dan logistik bidang operator terminal multipurpose. Layanan PTP Multipurpose adalah jasa handling general cargo, curah cair (CPO), dan curah kering (semen, batu bara dan lainnya). Adapun jasa layanan yang diberikan kepada para pelanggan, diantaranya stevedoring, cargodoring, gudang penumpukan, receiving/delivery, lapangan dan penumpukan, dan pelayanan lainnya seperti pelayanan konsolidasi barang.

Saat ini cakupan wilayah usaha PTP Multipurpose meliputi terminal multipurpose di 10 cabang pelabuhan Indonesia yang berada di bawah pengelolaan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) yang berada di 9 provinsi di Indonesia, yaitu Pelabuhan Tanjung Priok (Provinsi DKI Jakarta), Pelabuhan Banten (Provinsi Banten), Pelabuhan Panjang (Provinsi Lampung), Pelabuhan Jambi (Provinsi Jambi), Pelabuhan Bengkulu (Provinsi Bengkulu), Pelabuhan Teluk Bayur (Provinsi Sumatera Barat), Pelabuhan Palembang (Provinsi Sumatera Selatan), Pelabuhan Cirebon (Provinsi Jawa Barat), Pelabuhan Pangkal Balam (Provinsi Bangka Belitung), dan Pelabuhan Tanjung Pandan (Provinsi Bangka Belitung).

Berdasarkan data Indonesian National Shipowner's Association (INSA), pandemi COVID-19 sangat memukul kinerja sektor pelayaran nasional serta kinerja industri terkait lainnya, seperti logistik. Hingga Maret 2020, terjadi penurunan volume kargo, baik pada ekspor impor hingga 14%-18%. Begitu juga pada kargo domestik terutama pada kargo penunjang ekspor impor dan distribusi nasional yang turun 5%-10%.

PTP Multipurpose pun mencatatkan penurunan kinerja operasional, arus barang atau throughput tercatat sebesar 38,4 juta ton hingga akhir Desember 2020 atau mencapai 62% dari target yang ditetapkan dalam RKAP Tahun 2020 sebesar 61,9 juta ton. Sementara jika dibandingkan dengan realisasi arus barang pada periode yang sama di tahun 2019 yang tercatat sebesar 43,3 juta ton, maka arus barang pada tahun 2020 menurun sebesar 11%.

Throughput terendah sepanjang tahun 2020 yang dialami PTP Multipurpose terjadi di Bulan Mei, yaitu turun sebanyak 36% dari bulan sebelumnya menjadi 2,3 juta ton dan turun sebesar 43% dibandingkan tahun 2019 pada bulan yang sama. Dibandingkan dengan bulan sebelumnya, pada bulan Mei 2020 terjadi penurunan pada jenis general cargo sebanyak 17%, bag cargo sebanyak 42%, dan unitized cargo sebanyak 51%. Kendati demikian, dari bulan Juli hingga Desember 2020, throughput PTP Multipurpose mengalami peningkatan dari bulan ke bulan.

"Dampak dari Covid-19 ini menyebabkan PTP Multipurpose terus berbenah diri untuk menciptakan pola operasional yang berbasis planning and control agar mengahasilkan operasional yang efektif dan efisien dan sesuai dengan customer expectation yaitu fix price, fix time, dan safety," kata Direktur Utama PTP Drajat Sulistyo, Jumat (1/1/2021).

Selanjutnya
Halaman
1 2