3 Alasan 20 Ribu Warteg di Jabodetabek Bakal Tutup

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 13 Jan 2021 20:30 WIB
Sejumlah rumah makan di Jakarta kini hanya melayani pesanan take away atau bawa pulang. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk cegah penyebaran COVID-19.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Bisnis pelaku usaha tertekan sejak ada pandemi virus Corona (COVID-19). Hal itu juga terjadi kepada pengusaha Warteg yang tergabung dalam Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara).

Ketua Kowantara Mukroni mengatakan ada sekitar 20.000 Warteg di Jabodetabek yang akan tutup operasional pada tahun ini akibat dampak COVID-19.

"20.000 (Warteg) mau tutup di tahun ini di Jabodetabek karena tidak bisa memperpanjang kontrak sewa usaha, sekarang sudah 50%-nya," kata Mukroni kepada detikcom, Selasa (12/1/2021).

Berikut 3 alasan 20.000 Warteg mau tutup tahun ini:

1. Omzet Anjlok 90%

Mukroni menjelaskan selama pandemi COVID-19 ini omzet mereka anjlok bisa sampai 90%.

"Sudah hampir 90% (omzet turun)," kata Mukroni.

2. Tidak Bisa Perpanjang Sewa

Sebanyak 20.000 Warteg di Jabodetabek yang akan gulung tikar itu karena tidak bisa memperpanjang sewa tempat.

"Mereka sudah hampir setahun dagangannya jauh dari harapan, sementara untuk memperpanjang kontrak mereka harus mengeluarkan modal investasi lagi," ucapnya.

3. Harga Bahan Pokok Naik

Ditambah dalam beberapa waktu terakhir sejumlah komoditas pangan yang jadi menu Warteg mengalami kenaikan harga. Sehingga membuat beban yang dipikul pelaku usaha semakin bertambah berat.

"Sementara pelanggan sudah mulai pelit untuk makan di Warteg karena mengetatkan ikat pinggang. Maklum pendapatan mereka juga berkurang karena wabah COVID ini," tuturnya.

(fdl/fdl)