Pulihkan Ekonomi AS, Joe Biden Bakal Gelontorkan Rp 26.000 T

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 08:45 WIB
WILMINGTON, DELAWARE - JANUARY 07: U.S. President-elect Joe Biden delivers remarks before announcing his choices for attorney general and other leaders of the Justice Department at The Queen theater January 07, 2021 in Wilmington, Delaware. Biden nominated Judge Merrick Garland to be attorney general, Lisa Monaco to be deputy attorney general, Vanita Gupta to be associate attorney general, and Kristen Clarke to be assistant attorney general for the Civil Rights Division.   Chip Somodevilla/Getty Images/AFP
Joe Biden/Foto: Chip Somodevilla/Getty Images/AFP
Jakarta -

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden meluncurkan proposal paket stimulus yang dirancang untuk memulihkan perekonomian. Stimulus itu sebesar US$ 1,9 triliun atau setara Rp 26.600 triliun (kurs Rp 14.000) untuk masyarakat yang kesulitan selama pandemi Corona.

Penanggulangan dampak Corona memang menjadi salah satu janji Biden saat kampanye. Dia berjanji akan menangani pandemi lebih serius dari Presiden Donald Trump.

"Kita berada di tengah krisis ekonomi yang terjadi sekali dalam beberapa generasi. Penderitaan manusia yang mendalam sudah terlihat jelas dan tidak ada waktu untuk disia-siakan. Kami harus bertindak sekarang," kata Biden dikutip dari Reuters, Jumat (15/1/2021).

Rincian paket bantuan dirilis oleh tim transisi Biden pada Kamis (14/1). Bantuan termasuk US$ 415 miliar atau Rp 5.810 triliun untuk peluncuran vaksin COVID-19, sekitar US$ 1 triliun atau Rp 14.000 triliun untuk bantuan langsung ke rumah tangga, dan sekitar US$ 440 miliar atau Rp 6.160 triliun untuk usaha kecil yang pendapatannya terpukul karena pandemi.

Pembayaran stimulus akan dikeluarkan untuk US$ 1.400, menambah US$ 600 yang dikeluarkan di bawah undang-undang stimulus kongres terakhir. Asuransi pengangguran tambahan juga akan meningkat menjadi US$ 400 seminggu dari US$ 300 seminggu dan akan diperpanjang hingga September.

Keputusan itu memberikan kontras yang tajam jika dibanding Trump yang menghabiskan sisa waktu pemerintahannya hanya untuk merongrong kemenangan Biden, daripada berfokus pada stimulus tambahan. Meskipun akhirnya Trump yang meninggalkan kantor pada hari Rabu mendukung bantuan US$ 2.000.

Banyak Partai Republik di Kongres menolak keras bantuan semacam itu. Namun Biden akan berusaha untuk mengesahkan undang-undang tersebut walaupun Trump sedang menghadapi pemakzulan.

(ara/ara)