Huawei Cabut Fitur Pengenal Wajah Uighur

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 11:45 WIB
LAS VEGAS, NV - JANUARY 09:  The Huawei logo is display during CES 2018 at the Las Vegas Convention Center on January 9, 2018 in Las Vegas, Nevada. CES, the worlds largest annual consumer technology trade show, runs through January 12 and features about 3,900 exhibitors showing off their latest products and services to more than 170,000 attendees.  (Photo by David Becker/Getty Images)
Foto: David Becker/Getty Images
Jakarta -

Perusahaan teknologi China, Huawei mencabut identifikasi ras Uighur di teknologi pengenalan wajahnya. Teknologi itu dibuat atas kolaborasi dengan Chinese Academy of Sciences dan pemerintah China.

Dalam arsip rencana pada 2018 pembuatan teknologi pengenalan wajah itu dibuat untuk digunakan di fasilitas pejalan kaki. Objek sasarannya adalah wajah dan rencananya bisa mengidentifikasi jenis kelamin, usia, hingga ras.

Namun, ketentuan identifikasi ras akan dicabut oleh Huawei. Kebijakan itu disampaikan oleh juru bicara Huawei. Dia mengungkap fitur identifikasi etnis akan diubah dan seharusnya tidak menjadi bagian dari aplikasi.

"Huawei menentang segala jenis diskriminasi, termasuk penggunaan teknologi untuk melakukan diskriminasi etnis. Kami terus bekerja untuk memastikan teknologi baru dan berkembang dikembangkan dan diterapkan dengan penuh perhatian dan integritas," jelasnya, dikutip dari CNN, Jumat (15/1/2021).

Huawei bukan satu-satunya perusahaan yang mengajukan paten identifikasi etnis Uighur. Startup teknologi China, Megvii juga mengajukan permohonan paten serupa pada Juni 2019 yang akan mencakup identifikasi etnis Han, Uighur, non-Han, non-Uighur, dan tidak dikenal.

Kini Megvii akan menarik permohonan paten 2019 itu. Menurut perusahaan, identifikasi etnis itu akan menimbulkan kesalahpahaman

"Megvii belum mengembangkan dan tidak akan mengembangkan atau menjual solusi pelabelan ras atau etnis," kata perusahaan.

Sebuah badan pengawas video dan pelatihan dunia, IPVM juga menemukan startup teknologi China lainnya yakni Sensetime yang juga berencana membuat identifikasi wajah dengan pengenalan ras dan etnis. Hal itu perusahaan rencanakan pada 2019.

Selain itu, raksasa e-commerce China, Alibaba juga pernah mencoba membuat teknologi pengenalan wajah dengan identifikasi etnis dan ras. Namun, pada Desember 2020 rencana itu dibatalkan setelah mendapat teguran dari IPVM.

Teknologi pengenalan wajah dalam kepolisian dan keamanan domestik China telah tersebar luas di seluruh China. Terutama di wilayah barat Xinjiang, di mana ada 2 juta orang dari Uighur dan etnis minoritas Muslim berada. Di sanalah pemerintah AS menduga etnis Uighur masuk ke kamp-kamp interniran.

Pemerintah China menyatakan kamp tersebut adalah pusat pelatihan kejuruan. Namun, orang-orang buangan Uighur mengatakan adanya tindakan kekerasan yang mereka sebut genosida budaya. Mereka juga menyebut adanya tindakan indoktrinasi dan pelecehan.

(ara/ara)