Kisah Eks Bos Disc Tarra, Banting Setir Jadi Petani Sayur

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 16 Jan 2021 06:00 WIB
Titik Balik Eks Bos Disc tarra
Foto: dok. pribadi Wirawan Hartawan

Wirawan menceritakan penyebab penutupan toko-tokonya bukan karena Disc Tarra kalah saing. Dia menyebut jika penutupan merupakan keputusan pribadi dan keluarganya. "Waktu Disc Tarra tutup, itu memang keputusan saya sendiri," ujarnya di bilangan Tangerang, belum lama ini.

Wirawan menceritakan saat 2015 Disc Tarra masih memiliki 238 cabang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Tapi keputusan menutup memang harus dieksekusi, pasalnya pabrik suku cadang mesin yang biasa dia gunakan untuk duplikasi CD dan berasal dari Eropa sudah bangkrut. Tak ada lagi yang memasok kebutuhan suku cadang mesin tersebut.

Hingga mesin yang dimiliki tinggal 3 unit, itupun hasil kanibal dari mesin yang lain. "Jadi saya pikir, kalau masih kontrak sama mal itu kan 5 tahun, mesin ini bisa tahan nggak 5 tahun lagi? Kalau saya kontrak tapi tidak produksi, mau jualan apa? Sewa harus bayar, pegawai bayar, listrik bayar. Ada di mal tapi nggak ada CD nya," ujarnya.

Nah dari situ dia memutuskan untuk tak melanjutkan kontrak-kontrak dengan mal dan menutup toko. Dia menegaskan Disc Tarra tutup bukan karena kerugian, walaupun yang berita yang beredar seperti itu.

Setelah masalah tersebut selesai, dia membereskan masalah pabrik yang juga harus ditutup. Karena tidak adanya suku cadang hingga tak ada lagi produksi. Dengan sisa simpanan, Wirawan mengungkapkan menyiapkan diri untuk dunia yang baru.

"Kalau saya waktu itu nggak tutup, coba bayangkan hari ini mal buka nggak? Harus bayar sewa nggak? Tahun lalu berapa banyak restoran yang ramai pun nggak kuat. Apalagi musik, anak saya saja sudah nggak beli CD, beli Spotify Rp 50 ribu saya bisa dengarkan dari seluruh dunia, Tuhan kasih berkat, lu tutup!" imbuhnya.


(kil/fdl)