Utang Luar Negeri RI Dekati Rp 6.000 Triliun

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 16 Jan 2021 06:30 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir November mencapai US$ 416,6 miliar atau sekitar Rp 5.832,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000.

Bank Indonesia (BI) menyebut angka ini tumbuh lebih tinggi yakni 3,9% dibandingkan periode bulan sebelumnya 3,3%. ULN ini terdiri dari publik dan swasta.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan ULN publik Pemerintah dan Bank Sentral sebesar US$ 206,5 miliar atau sebesar Rp 2.891 triliun dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 210,1 miliar atau sebesar Rp 2.941 triliun.

"Ini disebabkan oleh peningkatan penarikan neto ULN pemerintah. Selain itu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai Utang luar negeri berdenominasi rupiah," ujar Erwin dalam keterangan resmi BI, Jumat (15/1/2021).

Untuk ULN pemerintah pada akhir November 2020 sebesar US$ 203,7 miliar atau tumbuh 2,5%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2020 sebesar 0,3%.

Utang luar negeri swasta di halaman selanjutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2