Beras Murah Vietnam Rembes Bikin Pengusaha Resah

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 25 Jan 2021 07:14 WIB
Beras impor dari Vietnam dan Thailand masuk ke gudang Bulog di Kelapa Gading. Total beras yang masuk sebanyak 281.000 ton.
Illustrasi Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta -

Rembesnya beras Vietnam jenis jasmine rice di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tengah menjadi sorotan. Bagaimana tidak, beras ini merembes ke pasar dan dijual dengan harga yang relatif lebih murah.

Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso buka suara terkait beras yang rembes itu. Dia menjelaskan, anggotanya menemukan beras jasmine rice yang dijual dengan harga relatif murah. Setelah kemasannya dibuka, ternyata beras tersebut merupakan beras premium biasa.

Dia menambahkan, jasmine rice sendiri merupakan beras dalam kategori khusus. Pada dasarnya, impor terbuka untuk beras khusus ini.

"Kalau Perpadi kami di Jakarta menemukan di lapangan itu tiba-tiba ada beras Vietnam yang harganya relatif murah, di dalam bungkusnya dikatakan jasmin rice. Ternyata setelah dibuka pada dasarnya beras premium biasa. Kalau jasmin rice memang pada dasarnya masih ada izin-izin khusus impor jasmine rice kan, artinya beras khusus ada izin impor," katanya kepada detikcom, Minggu (24/1/2021).

Dia menuturkan, untuk beras medium dan premium seharusnya tidak ada yang masuk. Sebab, posisi beras saat ini biasa saja bahkan cenderung lesu.

"Tapi kalau beras biasa, premium itu atau medium itu nggak ada, mestinya tidak ada yang masuk. Nah karena situasi tahun ini posisinya posisi surplus kemudian pasaran lokal sedang biasa-biasa, bahkan cenderung malah lesu. Ko tiba-tiba ada beras impor masuk, itulah yang dilaporkan teman-teman," terangnya.

Ia menuturkan, kasus ini saat ini telah ditangani oleh pihak berwajib. Dia menambahkan, harga beras jasmine rice sendiri seharusnya di atas Rp 10.000.

"Rata-rata mendekati US$ 1 aslinya pastinya di atas Rp 10 ribu karena kan harga naik turun dan persaingan produksi di negara-negara tersebut," ujarnya.

Meski demikian, pihaknya tak ingin berkomentar lebih jauh terkait masuknya beras tersebut, termasuk dugaan adanya pemalsuan kemasan. "Ya yang bisa mengatakan tentu pihak berwajib, intinya di situ yang tercantum di label luar dengan isinya berbeda. Ini menurut laporan ya, saya sendiri tidak sempat melihat karena terus menghilang," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3