Eks Pengacara Trump Digugat Rp 18 T Gegara Hoaks Pemilu

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 07:10 WIB
US President Donald Trump attends a National Day of Observance wreath laying ceremony on November 11, 2020 at Arlington National Cemetery in Arlington, Virginia. - US President Donald Trump made his first official post-election appearance Wednesday for what should be a moment of national unity to mark Veterans Day, now marred by his refusal to acknowledge Joe Bidens win. The president visited Arlington National Cemetery, four days after US media projected his Democratic rival would take the White House. (Photo by Brendan Smialowski / AFP)
Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI
Jakarta -

Sebuah perusahaan mesin pemungutan suara AS mengajukan gugatan US$ 1,3 miliar atau setara Rp 18,2 triliun terhadap mantan pengacara Presiden Donald Trump, Rudy Giuliani. Dia dituduh melakukan pencemaran nama baik dalam kampanyenya yang menyebut kebohongan besar di pemilihan presiden AS.

Melansir Reuters, Senin (25/1/2021), perusahaan yang berbasis di Denver itu bernama Dominion Voting Systems Inc. Perusahaan juga mengajukan gugatan sebelumnya terhadap pengacara kampanye Trump, Sidney Powell, yang juga dituduh menyebarkan teori konspirasi palsu tentang pemilihan presiden AS yang dimenangkan oleh Joe Biden.

Seorang karyawan senior di Dominion, Eric Coomer, juga mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap kampanye Trump. Dia mengaku mendapatkan ancaman pembunuhan dari pendukung Trump.

Giuliani dan pengacaranya, Robert Costello, belum memberikan komentar terkait gugatan tersebut.

Trump dan sekutunya selama dua bulan terus menyangkal kekalahannya dalam pemilihan presiden AS. Mereka melakukan klaim tanpa bukti bahwa hasil pemilu AS merupakan kecurangan. Itu dilakukan sebelum para pendukungnya menyerbu Capitol pada 6 Januari lalu.

Dominion sendiri disebut-sebut oleh kubu Trump telah membuat dan menyebarkan 'Kebohongan Besar'. Isu itu menjadi viral dan membuat banyak orang percaya bahwa perusahaan telah memanipulasi hasil suara.

Dominion mengatakan pihaknya mengajukan gugatan untuk meluruskan persepsi yang menyebar luas itu dan untuk membersihkan nama baik perusahaan, karyawannya, dan proses pemilihan.

Dominion menyatakan dalam gugatannya bahwa mereka telah menghabiskan US$ 565.000 untuk keamanan pribadi guna melindungi karyawannya, yang menghadapi pelecehan hingga ancaman kematian.

Didirikan pada tahun 2002, Dominion adalah produsen utama mesin pemungutan suara di AS. Berbagai mesin milik Dominion telah digunakan di lebih dari dua lusin negara bagian selama pemilu 2020.

(das/eds)