Ada UU Cipta Kerja, Pemerintah Janji Buka 1.700 Usaha untuk Investasi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 14:38 WIB
Menko Perekonomian/Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Airlangga Hartarto
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Pemerintah akan menetapkan daftar positif dan prioritas investasi (DPI) dalam Rancangan Peraturan Presiden (Raperpres) Bidang Usaha Penanaman Modal di Undang-undang (UU) Cipta Kerja.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan beleid itu akan membuka 1.700 bidang usaha untuk investasi. Dia memastikan pelaksanaannya akan tetap memperhatikan, melindungi, termasuk memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Bidang usaha yang dibuka adalah 1.700 dengan aturan bahwa investasi di bawah Rp 10 miliar dikhususkan untuk UMKM. Sedangkan, untuk modal asing atau modal besar itu di atas Rp 10 miliar," katanya dalam webinar bertajuk 'Akselerasi Pemulihan Ekonomi', Selasa (26/1/2021).

Airlangga menyebut pemerintah juga menyiapkan 246 bidang usaha prioritas dengan insentif fiskal dan non-fiskal, seperti tax allowance dan tax holiday. Ada 90 bidang usaha yang dialokasikan untuk kemitraan dengan koperasi dan UMKM, serta 46 bidang usaha dengan persyaratan tertentu.

"Positive list (daftar terbuka investasi) itu dibagi menjadi bidang yang mendapatkan tax holiday atau tax allowance, yaitu 206 bidang. Kemudian bidang usaha yang dialokasikan bermitra dengan UMKM 90, dan 46 bidang dengan persyaratan tertentu," tuturnya.

Investasi Indonesia juga akan meningkat melihat adanya Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Sovereign Wealth Fund (SWF). Airlangga menyebut pemerintah sudah menemui 50 investor global untuk menjaring investasi dan telah mengantongi letter of interest dari beberapa negara untuk mendatangkan investasi dana abadi.

"Diharapkan sovereign wealth fund ini bisa menarik SWF dari negara lain. Kami sudah mendapatkan letter of interest dari US DFC, JBIC dan juga ADIA dari United Arab Emirates," tuturnya.

Airlangga menjelaskan dalam tahap komersial, nantinya LPI akan memiliki dua jenis pendanaan yakni master fund dan thematic fund.

Letter of interest dari International Development Finance Corporation (DFC) sebesar US$2 miliar, MoM dari JBIC dengan potensi pendanaan di atas US$ 4 miliar, masuk dalam jenis master fund.

Sementara yang masuk dalam thematic fund di antaranya letter of interest informal dengan komitmen lebih dari US$ 2 miliar dari CDPQ Kanada untuk pembangunan jalan tol. Kemudian ada pula letter of interest dari APG Belanda sebesar US$ 1,5 miliar dan Macquarie dengan potensi kontribusi US$ 300 juta.

"Jadi konsepnya adalah dua jenis fund, yaitu master fund dan thematic fund yang sektornya dibagi sesuai dengan bidang," tuturnya.

(zlf/zlf)