Alasan Trenggono Tak Langsung Hentikan Ekspor Benih Lobster

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2021 16:35 WIB
Sakti Wahyu Trenggono (Andhika Prasetia/detikcom)
Foto: Menteri KP Sakti Wahyu Trenggono (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Sakti Wahyu Trenggono sampai saat ini belum memutuskan nasib ekspor benih lobster. Kebijakan itu masih disetop sementara sejak menteri sebelumnya Edhy Prabowo ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Trenggono mengatakan alasan dirinya tidak mau langsung menghentikan kebijakan ekspor benih lobster karena Indonesia belum memiliki alat untuk memonitor jika terjadi penyelundupan.

"Kalau ekspor benih lobster langsung saya katakan 'sekarang juga dihentikan', saya tanya BKIPM (Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) kamu sudah punya belum peralatan yang bisa melihat bahwa itu ada benih lobster yang keluar? 'Belum punya Pak' (jawabannya). Saya stres, kita belum punya peralatan untuk menjaga itu semua bagaimana saya bisa mengatakan," kata Trenggono dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2021).

Untuk itu, dia meminta kepada BKIPM untuk menyiapkan alat canggih yang bisa diletakkan di pelabuhan maupun bandara untuk memantau pergerakan setiap orang yang membawa benih lobster ke luar negeri.

"Kita minta kepada ibu BKIPM untuk segera menyiapkan model seperti apa alatnya itu supaya kita bisa mendeteksi itu karena laut kita begitu besar kok yang nikmati negara pulau, saya terus terang nggak terima. Saya mau tegas banget, tapi kalau saya tegas tapi salah, namanya ngawur, jadi saya butuh evaluasi," ucapnya.

Menanggapi itu, Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDIP, Sudin mengatakan selama ini BKIPM tidak pernah meminta anggaran untuk membeli alat. Sementara anggaran yang disediakan selalu tersisa.

"Perlu diketahui periode yang lalu BKIPM tidak pernah meminta anggaran untuk alat, ini saya tegaskan belum pernah. Saya sampai nyinggung di Lampung itu kantor karantina bagus, mewah, saya sudah ngomong ketiga kali. Dikasih uang Rp 12 triliun ibu-ibu disuruh belanja nggak abis uangnya, malah dibalikin," ungkapnya.

Kembali ke Trenggono, alasannya belum memutuskan kebijakan ekspor benih lobster karena masih memikirkan nasib nelayan. Untuk itu, dia sedang mencari kebijakan yang tepat bagaimana ekspor dilarang tanpa melupakan kesejahteraan nelayan.

"Kemudian saya lihat lagi nelayan-nelayan itu hidupnya dari situ, oke kalau begitu bagaimana dia tetap bisa sejahtera? Ukurannya itu ketika si pembudidaya. Jadi ini saya setop dulu," ucapnya.

Begitu juga dengan kebijakan alat tangkap cantrang yang saat ini sedang dihentikan sementara. Trenggono sebenarnya ingin membuat kebijakan bahwa nelayan Indonesia diperbolehkan untuk menangkap ikan di grey area agar tidak ada kapal asing yang masuk.

"Saya pikir kenapa nggak langsung saja misalnya di batas grey area, saya lagi minta kepada Pak Zaini tolong berikan izin seluruh nelayan penuhin aja di grey area dengan demikian dari Vietnam, Filipina, Malaysia, dari manapun dia nggak bisa masuk, ketemu langsung sama kita," imbuhnya.

(aid/ara)