Joe Biden Tunda Penjualan Senjata AS, Kenapa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 28 Jan 2021 09:37 WIB
Joe Biden berkantor di Ruang Oval Gedung Putih, rombak dekorasi peninggalan Donald Trump
Foto: BBC World
Jakarta -

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menghentikan sementara penjualan senjata kepada sekutunya. Departemen Luar Negeri AS mengatakan hal itu dilakukan karena pemerintah AS perlu melakukan peninjauan di masa pemerintahan baru.

Mengutip dari Reuters, Kamis (28/1/2021) Transfer dan penjualan senjata yang ditunda ini di bawah program Penjualan Militer Asing dan Penjualan Komersial Langsung atau Foreign Military Sales and Direct Commercial Sales.

Penundaan juga akan dilakukan untuk kesepakatan 50 jet F-35 yang dibuat oleh Lockheed Martin. Kesepakatan itu dibuat oleh mantan Presiden AS Donald Trump sebelum Biden dilantik.

Jet F-35 adalah komponen utama dari penjualan persenjataan berteknologi tinggi senilai US$ 23 miliar dari produsen senjata General Atomics, Lockheed dan Raytheon Technologies Corp ke Uni Emirat Arab (UEA).

Menanggapi kebijakan baru dari Joe Biden, manajemen Raytheon mengatakan kebijakan itu akan sedikit menyulitkan perusahaan mendapatkan lisensi untuk penjualan senjata komersial ofensif senilai US$ 500 juta kepada pelanggan di Timur Tengah.

Sementara Duta Besar UEA untuk AS, Yousef Al Otaiba mengatakan di media sosial Twitternya, ke depannya akan mempererat hubungan dengan pemerintahan Joe Biden demi pendekatan komprehensif untuk perdamaian dan stabilitas Timur Tengah.

"Paket F-35 lebih dari sekedar menjual perangkat keras militer kepada mitra. Ini memungkinkan UEA untuk mempertahankan, mencegah, dan menambah kekuatan agresi. Sejalan dengan dialog baru dan kerja sama keamanan, ini membantu meyakinkan mitra regional," kata Al Otaiba.

(fdl/fdl)