Erick Thohir dan Sri Mulyani Mau Bentuk 6 Holding BUMN Tambahan

Soraya Novika - detikFinance
Kamis, 28 Jan 2021 16:24 WIB
Menkeu Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir bicara soal keberadaan Harley Davidson dan Brompton di pesawat Garuda. Menteri BUMN ungkap pemilik Harley itu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan berencana membentuk enam holding BUMN. Adapun keenam holding BUMN terdiri dari Jasa Survei, Industri Pangan, Industri Pertahanan, Industri Media, Layanan Kepelabuhan, dan Layanan Transportasi (Aviasi-Pariwisata).

"Ini merupakan informasi awal yang kita berikan kepada bapak dan ibu dan ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang sedang dilakukan bersama-sama Kementerian BUMN dengan Kementerian Keuangan untuk melakukan restru BUMN," ungkap Direktur Kekayaan Negara Dipisahkan Kementerian Keuangan Meirijal Nur dalam seminar virtual dengan LPPI, Kamis (28/1/2021).

"Sekarang yang kita lakukan itu, ini beberapa rencana holding, yaitu jasa survei, industri pangan, industri pertahanan, industri media, layanan kepelabuhan, layanan transportasi," tambahnya.

Sebagai informasi, BUMN saat ini terdiri dari 13 Perum dan 94 BUMN atau dengan total 107. Sejak Erick Thohir menjabat, BUMN ditarget harus bertransformasi agar lebih ramping dan efisien. Untuk itu, pelaksanaan transformasi BUMN ke depan akan dilakukan berdasarkan klaster industri sesuai dengan rantai nilai bisnisnya. Targetnya, BUMN akan dikelompokkan menjadi 12 klaster industri utama saja.

Sejauh ini, baru terbentuk 6 holding BUMN terdiri dari holding perkebunan PT Perkebunan Nusantara III (PTPN Group), holding kehutanan Perum Kehutanan Negara (Inhutani Group), holding industri tambang PT Inalum (Bukit Asam, Timah, Aneka Tambang, Freeport Indonesia), Holding Minyak dan Gas PT Pertamina (PT PGN), holding farmasi PT Bio Farma (Kimia Farma, Indofarma), dan holding Asuransi PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Askrindo, Jamkrindo, Jasindo, Jasa Raharja).

Masih terbuka kemungkinan penggabungan lebih banyak BUMN dan anak perusahaan BUMN ke dalam holding-holding yang sudah terbentuk tersebut. Tujuannya agar mencapai target efisiensi 12 industri tadi dan menambah value dari para perusahaan dan anak perusahaan BUMN.

"Konsep holding yang dikembangkan saat ini kami melihat lebih kepada sebuah ekosistem ketika ada kesamaan dan interlink bisnis antar BUMN itu maka di-grouping BUMN dalam satu rencana holding," imbuhnya.

Meirijal mencontohkan untuk farmasi misalnya ke depan mungkin dimasukkan juga anak perusahaan yang mengelola rumah sakit sehingga ia menjadi satu industri yang lengkap di bidang kesehatan. Ada juga berbagai rencana penggabungan BUMN lainnya.

Di internal pemerintah sempat muncul wacana penggabungan perusahaan yang bergerak di bidang geothermal (energi panas bumi) dan hal semacam itu sampai saat ini masih terus dibahas.

"Dinamika itu terjadi terus dalam waktu belakangan ini di mana itu akan kami kira merupakan suatu upaya untuk membangun sinergitas dan tentu saja itu ujung-ujungnya untuk membangun value creation yang lebih mempunyai kekuatan dalam satu kelompok holding dan mempunyai kemudahan-kemudahan dan fleksibilitas tidak mengambil berbagai keputusan korporasi nantinya," tuturnya.

(ara/ara)