Mendag Curiga di Balik Surplus Dagang RI Ada Kelesuan Ekonomi

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 29 Jan 2021 18:18 WIB
Dubes RI untuk Amerika Serikat, Muhammad Lutfi
Foto: Edi Wahyono: Ilustrasi Mendag Muhammad Lutfi
Jakarta -

Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi merespons surplus neraca dagang RI yang cetak rekor di tahun 2020, yakni mencapai US$ 21,7 miliar. Padahal, pada akhir 2019, Kementerian Perdagangan (Kemendag) hanya menargetkan surplus neraca dagang tahun 2020 sebesar US$ 1 miliar.

Namun, di balik surplus yang berkali-kali lipat itu menurut Lutfi ada dampaknya tersendiri bagi industri dalam negeri. Bahkan, ia mencurigai ekonomi Indonesia lesu di kala surplus yang cetak rekor itu.

Faktanya, surplus itu dilatarbelakangi oleh impor yang turun selama 2020, khususnya impor bahan baku/penolong yang minus 18,3% dibandingkan tahun 2019 atau secara year on year (yoy). Hal itu pun mengganggu produktivitas industri, ditambah lagi dengan pertumbuhan konsumsi yang menurun tajam di 2020.

"Nah karena surplusnya terlalu tinggi, saya curiga jangan-jangan perekonomian kita ini lagi lesu, dan kalau kita lihat beberapa indikator sektor perdagangan di kuartal III-2020 itu turun lebih dari 8%. Konsumsi untuk otomotif roda 2 dan roda 4 itu turun hampir 20%. Dan ini sejajar juga dengan perputaran kredit tumbuhnya itu terkoreksi. Jadi bukannya naik, malah turun," terang dia.

Gangguan dalam produksi dan konsumsi dalam negeri itu pun menyebabkan perekonomian Indonesia tertekan selama 2020. Untuk itu, fokus Lutfi saat ini ialah membalikkan situasi ekonomi agar pulih.

"Ini harus kita perbaiki dari tata kelola supaya produksi berjalan dengan baik, tapi produksi kalau orang nggak ada yang beli susah juga. Makanya kita harus memberikan insentif kepada non-perishable goods atau kepada investasi untuk belanja yang tidak habis dimakan oleh waktu seperti mobil, motor, televisi. Ini diberikan insentif supaya mereka mau membeli lagi, mengambil kredit lagi, supaya perekonomian jalan," papar Mendag.

Ia menegaskan, dirinya tak mengejar surplus neraca dagang di tahun ini. Namun, fokusnya ialah memberikan vitamin pada ekonomi Indonesia, baik memulihkan produksi, maupun menaikkan konsumsi dalam negeri.

"Nah kalau ditanya bagaimana ke depannya? Yang saya targetkan itu bukan surplusnya, tapi perbaikan struktur daripada perekonomiannya, menjamin ekonomi kita tidak lesu. Nanti angkanya berapa kita formulasikan. Tetapi yang paling penting ini sekarang kita mesti jump start, memberikan vitamin, darah baru kepada perekonomian kita agar kembali kuat, agar kembali berjalan sebagaimana sebelum COVID-19 ini," tegas Lutfi.

Ia menegaskan, cara itu harus dilakukan agar ekonomi Indonesia tak loyo lagi.

"Jadi kalau saya ditanya sama orang, mending mana economy overheating, atau economy under heating. Saya nggak pilih dua-duanya, tetapi kalau ekonomi under heating ini seperti orang darah rendah, kebanyakan lemas dan pusingnya. Saya nggak mau ekonomi Indonesia pusing, saya nggak mau ekonomi Indonesia lemah. Dan itu tanggung jawab saya sebagai Mendag, untuk kita punya pertumbuhan yang baik, dan kita punya konsumsi sebagai pilar dasar untuk bisa memperbaiki daripada GDP kita," pungkas mendag.

(vdl/hns)

Tag Terpopuler