Ini Dia Otak di Balik Skema Ponzi yang Konon Mirip Bisnis Vtube

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 31 Jan 2021 08:00 WIB
Charles Ponzi/Istimewa
Foto: Charles Ponzi/Istimewa
Jakarta -

Aplikasi Vtube belakangan ramai diperbincangkan. Cara kerja aplikasi itu meresahkan karena dinilai mirip dengan skema ponzi atau piramida, di mana investor lebih lama dibayar oleh investor lebih baru untuk aksi penipuan melalui penawaran investasi.

Vtube sendiri milik PT Future View Tech, yang merupakan aplikasi periklanan dan disebut bisa mendatangkan uang kepada penggunanya yang menonton iklan di aplikasi tersebut. Aplikasi itu mendapat cap ilegal dari Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Nah, tahukah kamu siapa otak di balik skema ponzi yang disebut mirip Vtube? Dia adalah Charles Ponzi, seorang penipu ulung dari Amerika Serikat (AS) yang mulai melakukan aksinya sekitar awal 1900-an.

Berdasarkan catatan detikcom, Minggu (31/1/2021), kisah Ponzi bermula saat dirinya bekerja sebagai asisten teller pada sebuah bank bernama Banco Zarossi di Montreal Kanada. Bank itu dimiliki oleh pebisnis Luigi Zarossi.

Di dalam bank itu, nama Ponzi sendiri cukup mentereng, dan berhasil menjabat sebagai manajer. Metode 'gali lubang-tutup lubang' yang dilakoni Zarossi dalam mengelola bank menjadi inspirasi untuk skema Ponzi di kemudian hari.

Zarossi memanfaatkan aliran uang deposito di banknya dengan iming-iming pengembalian 6% pada para nasabah baru. Tujuannya, untuk mendanai berbagai investasi lain.

Sialnya, investasi itu gagal, pengembalian ke nasabah pun tidak ada bentuknya. Akhirnya, Zarossi kabur ke Meksiko dengan membawa sejumlah uang nasabah-nasabah barunya itu.

Usai kasus tersebut, Ponzi pun sempat dipenjara di Quebec dengan tuduhan memalsukan cek dan baru dibebaskan pada 1911. Namun, dia kembali ditahan di Penjara Atlanta gara-gara terlibat bisnis penyelundupan imigran.

Dua tahun meringkuk di balik jeruji besi, Ponzi kembali ke Boston, AS. Namun di momen ini lah Ponzi menemukan titik baliknya dan menjadi pengusaha besar dengan menjalankan praktik penipuan investasi.

Pada 1919, Ponzi memulai perusahaan kecil di Boston. Idenya berawal dari datangnya sepucuk surat kiriman sebuah perusahaan di Spanyol yang menanyakan katalog iklan Amerika.

Setelahnya, Ponzi cukup menukarkan perangko-perangko mahal itu untuk dijual lagi dengan harga lebih mahal dari modal awal. Dengan cara ini, Ponzi meraup untung sampai 400%.

Tidak berpuas diri, Ponzi ingin menjalankan skema piramida dengan sasaran lebih besar, untuk itu pada Januari 1920 Ponzi mendirikan perusahaan yang lebih besar, The Securities Exchange Company.

Dari situ, Ponzi menjanjikan iming-iming balik modal dan keuntungan 50% hanya dalam waktu 45 hari. Berbekal kepandaian berkomunikasi, Ponzi menggaet 18 orang menjadi investor pertamanya dengan nilai investasi US$ 1.800.

Sesuai janjinya, Ponzi melimpahkan keuntungan kepada para investor pertamanya itu. Seiring waktu, investasi itu menarik lebih banyak orang. Manipulasi dengan skemanya itu mendatangkan keuntungan luar biasa. Ponzi disebutkan bisa mengantongi US$ 250 ribu per hari.

Namun, sepintar apapun menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga. Begitu juga skema penipuan yang dilakukan Ponzi.

Tidak sedikit yang penasaran terhadap Skema Ponzi itu. Salah satunya, surat kabar Boston Post, yang langsung melakukan investigasi khusus soal kasus ini. Beragam temuan Boston Post langsung membuat perusahaan Ponzi terguncang dan banyak dipertanyakan, ujungnya tidak ada lagi investor baru yang menyuntik dana.

Begitu bisnis dan skema penipuan besarnya ambruk, Ponzi ditangkap pada 12 Agustus 1920 dengan 86 dakwaan terkait penipuan dan penggelapan uang. Di pengadilan, Ponzi mengaku bersalah dan divonis 14 tahun penjara. Setelah bebas pada 1934, dia dideportasi ke Italia.

Meski berujung kegagalan, hingga kini metode meraup keuntungan yang dilakukan Ponzi masih banyak digunakan. Sedikitnya praktik skema ponzi yang banyak digunakan adalah multi-level marketing (MLM), hingga disebut mirip Vtube.

(zlf/zlf)

Tag Terpopuler