LPI Ditargetkan Sedot Investasi Sampai Rp 280 T

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 19:45 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Pemerintah menargetkan dapat menarik dana sampai US$ 20 miliar atau setara Rp 280 triliun (kurs Rp 14.000) melalui Lembaga Pengelola Investasi (LPI). Pemerintah yakin, lembaga dengan nama Indonesia Investment Authority (INA) itu dapat merealisasikan dalam 1 hingga 2 tahun ke depan.

Namun, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, terpenting ialah aset yang dibiayai oleh investasi tersebut.

"Saya pikir untuk mendapatkan komitmen sekitar US$ 20 miliar adalah jumlah yang kami targetkan sebagai komitmen di tingkat Master Fund. Saya pikir itu bisa dicapai. Satu hingga dua tahun ke depan, kami mendapatkan anggaran lebih dari US$ 20 miliar. Saya pikir, seperti yang saya sebutkan, jauh lebih penting untuk benar-benar mencapai kesepakatan pada tingkat transaksional," katanya dalam Mandiri Investment Forum, Rabu (3/2/2021).

Pemerintah sendiri menawarkan aset investasi sekitar US$ 5 hingga US$ 6 miliar atau sekitar Rp 70 triliun hingga Rp 84 triliun. Pihaknya mengaku, belum tahu berapa proyek yang akan lolos karena memerlukan sejumlah pembahasan.

"Kita belum tahu berapa banyak yang lolos, aset US $ 6 miliar bisa ditutup, tentunya akan banyak pembahasan mengenai due diligence, valuasi, penataan, dan level aset," terangnya.

Dia berharap aset itu berhasil ditawarkan. Jika berhasil, maka INA bisa menghimpun dana lebih besar lagi ke depannya.

"Saya pikir jika kita dapat membuat kesepakatan yang bagus di katakanlah empat atau lima transaksi ke depan. Saya kira ada peluang besar bahwa kita bisa menarik pool of fund yang lebih besar di masa depan, dan karenanya kita juga bisa menaruh aset yang lebih sehat untuk ditransfer ke INA," terangnya.

Pada acara yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, beberapa investor sudah menyatakan komitmennya untuk menyetorkan dana kepada LPI yang merupakan lembaga dana abadi Indonesia tersebut.

"Beberapa investor sudah menunjukkan minatnya dengan mengirimkan surat, dan bersedia berkomitmen sekitar US$ 2 miliar, sekitar US$ 4 miliar, dan juga dari yang lainnya dari CDPQ dari Kanada, atau dari Belanda," kata dia.

Pada dokumen yang dipaparkan Airlangga terdapat rincian nilai komitmen dari sejumlah pemodal asing ke LPI. Melalui Master Fund ada US DFC (Letter of Interest hingga US$ 2 miliar), JBIC (MoM dengan potensi hingga US$ 4 miliar) and ADIA (pending formation).

Lalu melalui Thematic Fund ada CDPQ Kanada (Letter of Interest komitmen informal hingga US$ 2 miliar), APG Belanda (Letter of Interest dengan potensi hingga US$ 1,5 miliar), GIC Singapore (possibly following discussion), dan Macquarie (menawarkan sebagai pengelola dana, kontribusi potensial US$ 300 juta).

Sementara itu, pemerintah telah berkomitmen menempatkan US$ 5 miliar sebagai modal awal LPI. Targetnya adalah US$ 20 miliar.

"Untuk kuartal pertama di tahun ini dan itu sekitar US$ 5 miliar," tambah Airlangga.



Simak Video "Jokowi Lantik Dewan Pengawas Lembaga Pengelola Investasi"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/dna)