Anies Baswedan Diberi Gelar Pahlawan Transportasi, Ini Kritik dari Pakar

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 14:36 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengunjungi flyover Tapal Kuda di Jakarta Selatan. Kedatangannya untuk meninjau flyover yang sudah mulai diuji coba tersebut
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau flyover Tapal Kuda. (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ikut merespons soal Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan diberi gelar sebagai Pahlawan Transportasi oleh Transformative Urban Mobility Initiative (TUMI). MTI merupakan organisasi profesi terdiri atas para pakar, akademisi, praktisi, dan birokrat di bidang transportasi yang berkehendak dan bertekad mendukung dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pembangunan transportasi nasional yang berkelanjutan.

Menurut Wakil Sekjen MTI Deddy Herlambang, predikat pahlawan transportasi yang diberikan kepada Anies terlalu berlebihan. Sebab, menurutnya, menata transportasi memerlukan waktu yang panjang. Sebelum sistem transportasi di Jakarta sebagus sekarang, banyak tokoh lain yang terlibat di dalamnya, bukan hanya Anies saja.

"Kalau predikat pahlawan transportasi saya pikir terlalu berlebihan, karena menata transportasi tidak hanya cukup 1-2 tahun, memerlukan waktu puluhan tahun," ujar Deddy kepada detikcom, Sabtu (6/2/2021).

Salah satu alasan TUMI memasukkan nama Anies Baswedan ke daftar 21 Heroes 2021 di bidang transportasi adalah Anies dinilai bagus dalam memimpin terbangunnya sistem transit di Jakarta. Menurut Deddy, hal itu sebenarnya sudah dipikirkan oleh tokoh-tokoh lain sebelum Anies menjabat.

"Kita mengabaikan para senior pendahulunya, Bang Yos berhasil membangun dengan busway/BRT TJ sejak 2003, Foke membentuk lembaga MRT 2008, Lalu Jokowi yang membangun MRT 2013, penataan stasiun-stasiun dan jalur sepeda sejak 2014, sejak zaman Ahok saya juga terlibat pembahasannya," katanya.

Lalu indikator keberhasilan membangun transportasi juga harus menghitung seberapa banyak masyarakat beralih ke transportasi publik.

"Keberhasilan transportasi hanya 1 indikatornya berapa banyak pengguna kendaraan pribadi shifting ke angkutan umum, semisal kalau sekarang di Jakarta modal share angkutan umum baru di bawah 20 persen kalau meningkat 100 persen atau 2x dari exiting bisa jadi 40 persen bisa dikatakan berhasil penataan transpotasinya. Kalau banyak membangun tapi belum ada yang gunakan, buat apa?" katanya.

Di sisi lain, Deddy meragukan kredibilitas TUMI. TUMI, kata Deddy, ternyata bukan lembaga internasional.

"Sebenarnya kita cek dulu kredibilitas TUMI itu dulu. Saya lihat kriterianya tidak tepat untuk penataan transportasi," imbuhnya.

"TUMI saya pribadi baru tahu baru-baru ini saja. Setelah ada info penghargaan ini, ternyata TUMI ada di Jerman, bukan lembaga internasional, karena tidak punya anggota dari LSM dunia yang independen. Lembaga dunia transportasi NGO internasional yang kenal hanya IFRTD dan EASTS," timpalnya.

Meski begitu, Deddy tetap mengakui kerja Anies Baswedan terutama terkait pembangunan integrasi antarmoda di Stasiun Tanah Abang dan Senen.

"Saya pikir capaian Pak AB saat ini membangun koneksi fisik/integrasi antarmoda di Stasiun Tanah Abang dan Senen. Tapi sebenarnya yang (seharusnya) mendapatkan penghargaan adalah organisasi nya bisa Dishub atau Dinas PU-nya," pungkasnya.

Lihat juga Video: Datang Melayat, Anies Sebut Firmanzah Sosok Ilmuwan Tekun

[Gambas:Video 20detik]



(hns/hns)