Alasan Erick Minta Garuda Kembalikan 12 Bombardier: Ada Aroma Suap

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 10 Feb 2021 14:13 WIB
Menteri BUMN RI Erick Thohir dan Komisi VI DPR menggelar rapat kerja membahas pelaksanaan pembelian Vaksin COVID-19.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Menteri BUMN Erick Thohir meminta manajemen PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk melakukan efisiensi karena dampak pandemi COVID-19. Salah satunya ialah meminta Garuda untuk mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 dengan mengakhiri kontrak operating lease pada Nordic Aviation Capital (NAC) yang jatuh tempo pada 2027.

Erick mengatakan, Garuda merupakan salah satu maskapai yang mengeluarkan biaya besar untuk pesawat.

"Jadi efisiensi menjadi kunci, efisiensi di segala lini. Yang tidak kalah pentingnya dari data-data kita lihat bahwa Garuda itu salah satu perusahaan penerbangan yang leasingnya paling tinggi dunia, cost daripada leasingnya 27%," katanya dalam konferensi pers, Rabu (10/2/2021).

Maka itu, ia memutuskan untuk mengembalikan 12 pesawat Bombardier.

"Saya dengan tegas, Pak Irfan (Dirut Garuda) hadir di sini, Pak Irfan dengan manajemen sangat mendukung kita memutuskan untuk mengembalikan 12 pesawat Bombardier CRJ 1000 untuk mengakhiri kontrak kepada Nordic Aviation Capital (NAC) yang jatuh temponya 2027," paparnya.

Erick juga meminta untuk melakukan negosiasi early payment settlement contract financial lease atau pembayaran lebih cepat pada 6 pesawat jenis yang sama dari Export Development Canada (EDC) yang jatuh tempo 2024.

Erick menambahkan, keputusan untuk mengembalikan pesawat itu juga menimbang tata kelola perusahaan yang baik.

"Di mana juga melihat dari keputusan KPK Indonesia dan penyelidikan Serious Fraud Office Inggris terhadap indikasi pidana suap dari pihak pabrikan kepada oknum pimpinan Garuda saat proses pengadaan tahun 2011," terangnya.

Saksikan juga 'Eks Direktur Garuda Didakwa Terima Suap dan TPPU Pengadaan Pesawat':

[Gambas:Video 20detik]



(acd/zlf)