Masih Betah di Jurang Resesi, Ekonomi Inggris Terburuk dalam 300 Tahun

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 13 Feb 2021 10:00 WIB
The union flag flies over the Houses of Parliament in Westminster, in central London, Britain June 24, 2016.     REUTERS/Phil Noble
Foto: REUTERS/Phil Noble
Jakarta -

Ekonomi Inggris masih bertahan di jurang resesi. Kantor Statistik Nasional Inggris atau Office for National Statistics (ONS) mengumumkan ekonomi sepanjang 2020 mengalami kontraksi 9,9%.

Kondisi ini menunjukkan posisi terburuk Inggris dalam 300 tahun, atau sejak peristiwa Great Frost di tahun 1709, di saat Inggris mengalami musim dingin terpanjang.

Dilansir CNBC, Jumat (12/2/2021), ekonomi Inggris memang sudah jatuh ke area merah alias minus sejak kuartal I-2020 di mana kontraksi 1,7% dibandingkan kuartal yang sama di tahun 2019 atau secara year on year (yoy).

Kemudian, di kuartal II-2020 ekonomi Inggris kembali kontraksi, bahkan jauh lebih parah yakni minus 21,7% yoy. Pada kuartal tersebut, ekonomi Inggris sudah resmi resesi karena mengalami kontraksi dua kuartal berturut-turut dalam satu tahun.

Di kuartal III-2020, ekonomi Inggris masih minus 9,6% yoy. Terakhir, di kuartal IV-2020 juga mengalami kontraksi, yakni minus 7,8% yoy.

Penyebab dari memburuknya perekonomian Inggris adalah pandemi virus Corona (COVID-19). Kebijakan lockdown yang diambil pemerintah Inggris membuat aktivitas ekonomi berjatuhan.

Selama Desember 2020, sektor jasa tumbuh 1,7% dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi 3,1%. Sementara di sektor manufaktur tumbuh 8 bulan berturut-turut, meskipun kenaikannya masih sangat kecil jika dibandingkan Mei 2020.

Tentunya kondisi ini lebih parah dua kali lipat dibandingkan dengan krisis keuangan global pada 2019. Dan juga sedikit lebih buruk dibandingkan kontraksi 9,7% selama krisis di tahun 1921.

Krisis kesehatan dari pandemi Corona memang belum usai di Inggris, bahkan belum cukup membaik. John Hopkins University mencatat sudah 4 juta kasus Corona dengan 115.000 kematian terjadi di Inggris. Penyebaran juga masih meluas karena munculnya varian baru COVID-19 di negeri tersebut.

(vdl/ara)