TikTok Dilarang di India, Ribuan Karyawan Dihantui PHK

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 13 Feb 2021 13:30 WIB
Logo TikTok
Foto: (Aisyah Kamaliah/detikcom)
Jakarta -

Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India akan melarang permanen bagi sejumlah aplikasi buatan China. Hal itu menyusul pemblokiran yang dikeluarkan India terhadap 59 aplikasi China termasuk TikTok, WeChat, dan UC Browser.

Hal tersebut dinyatakan oleh seorang sumber dalam instansi tersebut yang tak disebutkan namanya. Larangan permanen itu dibuat karena India menilai aplikasi-aplikasi China yang mengumpulkan data masyarakat mengancam keamanan dan integritas negara.

Rencana mempermanenkan larangan itu pun mengancam warga India yang bekerja pada aplikasi-aplikasi tersebut. Khususnya TikTok yang memiliki lebih dari 2.000 karyawan di India sudah menyatakan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Sangat disayangkan setelah mendukung lebih dari 2.000 karyawan kami di India selama lebih dari setengah tahun, kami tidak punya pilihan selain mengurangi jumlah tenaga kerja kami," kata Juru Bicara TikTok dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari CNN, Sabtu (13/2/2021).

Namun, TikTok yang merupakan aplikasi buatan ByteDance tak memberikan keterangan detail atas jumlah karyawan yang akan dikenakan PHK. Aplikasi tersebut memang sangat terpukul dengan adanya pemblokiran dari pemerintah, karena India merupakan salah satu pasar terbesarnya dengan 120 juta pengguna.

TikTok menyatakan, perusahaan telah mematuhi segala aturan dari pemerintah India. Namun, upaya tersebut sia-sia dengan adanya rencana larangan permanen.

"Kami terus berupaya untuk membuat aplikasi kami mematuhi hukum dan peraturan setempat, dan melakukan yang terbaik untuk mengatasi masalah apa pun yang mereka miliki. Sangat mengecewakan bahwa dalam tujuh bulan berikutnya, terlepas dari upaya kami, kami belum diberi arahan yang jelas terkait bagaimana dan kapan aplikasi kami dapat diaktifkan kembali," tutur Juru Bicara TikTok.

Namun, larangan permanen itu tak berdampak sama terhadap perusahaan China lainnya, seperti Alibaba yang mengoperasikan UC Browser di India. Pasalnya, perusahaan memang telah mengurangi operasional sejak adanya kebijakan pemblokiran di tahun 2020 lalu.

"Kami tidak mengharapkan hal itu (pemblokiran) berdampak material pada kinerja keuangan grup secara keseluruhan," kata CEO Alibaba Daniel Zhang pada Agustus 2020 lalu.

Sementara itu, induk dari WeChat yakni Tencent belum mengumumkan rencana perusahaan dengan adanya rencana larangan permanen ini. Juru Bicara Tencent mengatakan, saat ini pihaknya hanya akan mematuhi kebijakan pemerintah setempat.

"Tencent mematuhi semua perintah dan peraturan yang berlaku, dan terus mematuhi hukum yang berlaku di yurisdiksi tempat kami beroperasi. Kami berharap dapat terus fokus pada pasar inti kami dan menyediakan layanan berharga bagi pengguna kami," kata Juru Bicara Tencent.

Larangan terhadap aplikasi China ini dikeluarkan setelah adanya bentrok dengan Tentara India di perbatasan. Bentrok tersebut telah menewaskan 20 tentara India.

Oleh sebab itu, pemerintah India langsung mengeluarkan kebijakan pemblokiran aplikasi China. Tak hanya pemerintah, sejumlah warga India juga menyerukan pemboikotan produk barang dan jasa dari China.

(vdl/ara)