Mau Jadi Peternak Ayam Petelur? Kenali Tantangannya

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Selasa, 16 Feb 2021 13:19 WIB
Seorang pensiunan guru asal Blitar, Jawa Timur, bernama Sukarman sukses menjadi peternak ayam petelur. Ini kisahnya dalam bingkai foto.
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Telur merupakan protein hewani yang menjadi kebutuhan utama sumber pangan masyarakat. Selain memiliki banyak manfaat bagi orang yang mengonsumsinya, telur juga menjadi salah satu motor penggerak ekonomi kerakyatan di berbagai daerah Indonesia, salah satunya Kabupaten Blitar.

Kendati begitu, di balik manfaat protein yang menyehatkan dari satu butir telur, ternyata ada kerja keras dan pengorbanan yang tidak sedikit dari tangan-tangan para peternak ayam ini. Mereka harus memastikan hasil produksi telurnya baik dan harga yang dijual pun sesuai.

"Di dunia peternakan ini, udara, air, sama pakan, adalah tiga hal yang harus diperhatikan dalam beternak ayam. Sebab, efeknya akan ke (kuantitas) produksi telur," ujar Peternak Ayam Layer Kurniawan Unggul Pambudi kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Kurniawan merupakan salah satu peternak milenial generasi kedua asal Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Pria yang kini berusia 30 tahun ini setiap harinya mengurusi manajemen kandang termasuk pakan ayam untuk 13.000 ekor ayam layer yang dia ternak untuk memproduksi pangan telur.

"Belum lagi ada tambahan nutrisi untuk ayam, terus vaksin agar (ke 13.000 ekor ayam ini) bisa terus produksi telur dan terhindar dari penyakit. Sementara, pakan dalam satu bulan untuk perseribu ekor ayam bisa habis Rp 300 juta," imbuhnya.

Selain itu, dalam setiap produksi telur ayam ini, gejolak harga pakan seperti jagung di pasaran kerap kali menghantui usahanya, terlebih pada tahun 2017-2019 lalu, hal ini membuat dirinya tergabung dalam kelompok Koperasi Peternak Unggas Sejahtera (Putera) Blitar. Tujuannya, untuk mendapatkan subsidi demi kestabilan harga pakan.

"Saya daftar ke koperasi karena dibenturkan dengan harga jagung yang terus melambung tinggi sekitar Rp 6.000-an/kg dan harus adanya wadah atau organisasi membeli jagung subsidi pemerintah. Sebab, subsidi itu semuanya wajib untuk peternak dengan harga Rp 4.000 kala itu," ungkapnya.

Seorang pensiunan guru asal Blitar, Jawa Timur, bernama Sukarman sukses menjadi peternak ayam petelur. Ini kisahnya dalam bingkai foto.Seorang pensiunan guru asal Blitar, Jawa Timur, bernama Sukarman sukses menjadi peternak ayam petelur. Foto: Ari Saputra

Ketua Koperasi Putera Blitar Sukarman (60) pun menceritakan bagaimana gejolak harga telur saat itu. Pada 2017, harga telur dari Blitar pernah anjlok cukup dalam hingga kisaran Rp 13.000/Kg, maraknya telur infertile saat itu dituding menjadi salah satu penyebab, yang mana gejolak ini menjadi cikal bakal terbentuknya koperasi.

"Jadi koperasi dibentuk tahun 2017 akhir yaitu 30 November, yang mana saat itu terjadi harga telur murah, harga jagung mahal. Akhirnya kami difasilitasi oleh Pemerintah oleh Dinas Peternakan diundang dan terbentuklah Koperasi," terangnya.

Pada saat itu, kata dia, banyak di antara peternak yang kemudian mengosongkan kandang lantaran tidak menguntungkan dan tidak mampu lagi membeli pakan. Upaya tersebut dilakukan para peternak sebagai langkah untuk menghindari turunnya produksi, baik secara kuantitas maupun kualitas.

"Karena kualitas telur yang sudah turun sulit dinaikkan kembali dalam waktu singkat," sebut Sukarman.

Kemudian setelah harga kembali normal, gejolak di kalangan peternak kembali terjadi pada akhir 2018. Persoalannya, kata dia, bukan harga telur yang rendah melainkan persediaan pakan jagung sebagai salah satu pakan utama selain konsentrat yang langka di pasaran. Para peternak pun kembali mencari solusinya dengan mendatangi pemerintah setempat.

Beruntung, hal ini pun membuahkan hasil, Pemkab Blitar sigap melakukan kerja sama dengan daerah penghasil jagung hingga membuat pemerintah pusat memberikan bantuan peralatan pengeringan jagung untuk menunjang kelancaran ketersedian pakan ayam ini.

Lebih jauh, kata Sukarman, pada 2020 hingga saat ini, pandemi COVID-19 yang menghantam Indonesia membuat penyerapan telur ayam ikut terimbas. Adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta membuat daya konsumsi masyarakat turut berkurang.

"Karena banyak warung-warung dibatasi, toko-toko dibatasi, mal dibatasi, wisata juga dibatasi, otomatis penyerapannya berkurang," jelas Sukarman.

Para pekerja melakukan perawatan rutin di peternakan ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, (2/2/2021). Peternakan ayam petelur masih menjadi primadona untuk menopang ekonomi masyarakat Blitar di sektor pertanian. Sejarah peternakan telur di Blitar dimulai pada era 80an dan terus tumbuh hingga saat ini. (ARI SAPUTRA/detikcom)Para pekerja melakukan perawatan rutin di peternakan ayam petelur di Blitar, Jawa Timur, (2/2/2021) Foto: Ari Saputra

Meski begitu, nasib baik juga pernah menimpa peternak. Adanya program Bansos saat itu hingga jelang tahun baru 2021 lalu sedikit banyaknya mengangkat penyerapan telur di Kabupaten Blitar. Namun, hal itu bersifat sementara, sebab Bansos yang tadinya berupa barang menjadi diuangkan karena sebuah kasus.

"Kami berusaha untuk mencari jalan keluar, namun penyerapannya berkurang, sehingga harganya turun 16.500. Padahal harga pakan naik, mula-mula Rp 5.300 sekarang menjadi Rp 6.300 pakan, sehingga seharusnya harga telur itu sekitar Rp 20.000 sampai Rp 21.000," bebernya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar Adi Andaka mengungkapkan pihaknya juga telah melakukan sejumlah upaya untuk membantu peternak. Di antaranya menjadi fasilitator saat peternak dibelit persoalan, menjembatani penyediaan pakan, hingga pencarian pasar baru.

"Kami punya tanggung jawab moril untuk tetap mempertahankan telur-telur dari Blitar ini. Karena untuk berusaha di ayam petelur atau peternakan ini modalnya tidak sedikit. Selain modal juga diperlukan keterampilan karena harus telaten, kesabaran, dan keberanian," tegasnya.

Adi juga menyampaikan apresiasinya terhadap semua pihak yang turut membantu produksi telur dari Blitar, salah satunya adalah Bank BRI yang memberikan bantuan bagi peternak ayam layer di Blitar mulai dari fasilitas aplikasi digital hingga KUR.

Sebagaimana diketahui Bank BRI menjadikan Blitar sebagai pilot project pengembangan aplikasi Pasar Mikro agar para peternak dapat merambah digitalisasi dalam proses transaksi jual beli telur ayam. Selain itu, BRI juga turut menyalurkan modal usaha kepada para peternak agar dapat melangsungkan usahanya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus berita Jelajah UMKM di detik.com/tag/jelajahumkmbri

(akn/ega)